Sosbudpar

Sudah Dipermak, Sub Terminal Jorongan Tetap Sepi


LECES – Sub terminal Jorongan di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo saat ini sudah dipermak di bagian depannya. Namun, sampai saat ini terminal tersebut masih saja sepi. Faktor penyebabnya beragam.

Pemkab Probolinggo sudah memperbaiki bagian depan sub terminal Jorongan di Kecamatan Leces. Anggaran untuk pembangunan pagar depan itu tak kurang dari Rp 100 juta. Perbaikan itu dilakukan dengan salah satu tujuannya yaitu agar meningkatkan daya tarik terminal tersebut di hadapan masyarakat yang sedang bepergian. Terutama warga yang akan bepergian ke kota Probolinggo ataupun ke arah Lumajang.

Namun, kenyataannya, sampai saat ini sub terminal Jorongan itu masih sepi. Ada 12 bedak yang ada di kompleks tersebut, tidak semua dibuka. Hanya beberapa yang masih buka, mulai warung hingga toko kelontong dan bengkel.

Sepinya sub terminal Jorongan ini dipicu banyak faktor. Mulai dari faktor makin banyaknya moda transportasi pribadi yang lebih hemat, yaitu sepeda motor, hingga moda transportasi kekinian yang didukung teknologi informasi.

Faktor lainnya, angkutan kota ataupun MPU byson yang biasa mengantarkan penumpang ke Lumajang ataupun ke Kraksaan, memilih menunggu waktu (ngetem) di pinggir jalan demi penumpang. “Mau masuk malah nggak ada penumpang. Jadi, kita ngetem dan nunggu penumpang di luar,” kata Nawi, salah satu supir angkot yang biasa mangkal di kawasan tersebut.

Menurutnya pemugaran pagar sub terminal Jorongan yang ada saat ini tidak berdampak banyak. Karena permasalahan utamanya bukan soal fasilitas tapi angkot atau moda transportasi saat ini sudah kalah saing. “Jangankan di sini, di Terminal Bayuangga saja sepi. Jadi wajar. Makanya kami berharap, ada langkah dari Dishub soal ini,” ujarnya.

Lilik, pemilik warung, mengaku bahwa di terminal itu pernah ramai kurang lebih pada medio 2005 sampai 2010. Saat itu sub terminal Jorongan masih menjadi primadona masyarakat. Bahkan untuk ke Kota Probolinggo, penumpang harus antre angkot, khawatir tidak kebagian. “Sekarang nggak ada. Ya itu, sudah banyak yang punya sepeda motor dan kendaraan lain,” tuturnya.

Faktor lain penyebab sepinya sub terminal ialah angkutan umum online. “Sering di sini ada penumpang yang udah nunggu angkot, eh ternyata dijemput sama grab. Kasihan melihat kondisi seperti ini,” jelas Lilik.

Bukan saja soal itu, warung yang ada di dalam sub terminal pun tak luput dari kata sepi. Bahkan pembelinya buka sopir, melainkan orang luar, seperti butuh tani. ” Ya kami lakukan agar tetap ada aktivitas. Kalau di rumah saja malah nggak dapat penghasilan Di sini ada meskipun nggak banyak,” ujar Lilik.

Lilik tidak mengerti bagaimana mengatasi kondisi semacam ini. “Ya kami sendiri bingung. Mungkin sudah zamannya berbeda. Kecuali ada gebrakan dari pemerintah untuk meramaikan terminal ini,” katanya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel