Sosbudpar

Kiai Mutawakkil: Ada Aliran Sesat di Probolinggo


KRAKSAAN – Wakil Rais Syuriah PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menyebut di Kabupaten Probolinggo terdapat aliran sesat. Pernyataan tersebut disampaikan olehnya pada acara pelantikan PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Minggu (8/11).

Menurutnya, aliran sesat tersebut berada di Kecamatan Leces, dalam praktiknya aliran tersebut mengaku sebagai salah satu aliran thoriqoh. Namun dalam praktiknya, aliran tersebut menyimpang dari ajaran-aharan thoriqoh. Bahkan dalam praktiknya, laki-laki bisa kumpul dengan perempuan di dalam  satu ruangan.

“Ngaku thoriqoh tapi isinya tidak sama dengan yang diajarkan ulama kita. Wiridannya kumpul laki-laki dan perempuan, lampu harus mati dan tidak memakai baju. Dan ada seorang santri yang mengaku istrinya ikut thoriqoh ini, tapi setelah ikut istrinya tidak mau pulang, malah ikut dengan mursyidnya,” kata Kiai Mutawakkil.

Oleh karena itu, Kiai Mutawakkil berharap agar PCNU setempat dapat memberikan pendampingan terhadap masyarakat. Terutama  agar masyarakat tidak terpengaruh terhadap aliran sesat tersebut. Terlebih, PCNU setempat bisa meredam eksistensi dari aliran sesat tersebut.

“PCNU harus hadir di tengah-tengah masyarakat, harus memberikan pendampingan keagamaan. Jangan hanya hadir saat pilkada saja,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PCNU KH Shihabuddin Sholeh mengatakan, pihaknya sudah mengetahui adanya aliran tersebut, termasuk yang berada di Desa Pesawahan, Kecamatan Tiris. Ia pun berhanji akan menindaklanjuti adanya aliran sesat tersebut.

“Memang ada thoriqoh yang menyimpang di Pesawahan Tiris dan Leces, karena memang wiridannya remang-remang. Kumpul laki perempuan kan dalam Islam tidak boleh, apalagi ada telanjangnya. Dan kami akan kerja sama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk menangani ini,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris MUI setempat Yasin mengatakan, aliran tersebut memang sudah pernah masuk dalam ranah pengawasannya. Namun, sebelum dilakukan tindakan, pihaknya telah mengalami kesulitan informasi. “Sudah pernah kami bahas, tapi aliran ini memang sering berpindah-pindah tempat, akhirnya kami kehilangan jejak,” jelasnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel