Sosbudpar

Omzet Batik Probolinggo Merosot 70 Persen


KRAKSAAN – Industri batik di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2020 terpukul. Wabah Corona Virus Disease (Covid-19) jadi salah satu penyebabnya. Wabah ini mendera sejak Maret, saat mulai masuk musim kemarau. Padahal, kemarau seharusnya jadi musim peningkatan produksi batik.

Kondisi terbalik terjadi saat ini. Ketika wabah dirasa mulai mereda, Kabupaten Probolinggo sudah mulai sering diguyur hujan. Alhasil, produksi pun terhambat.

Abrori Hidayat, seorang pembatik dari Kecamatan Kraksaan mengatakan, penurunan omzet usahanya bahkan turun hingga 70 persen dibanding saat kondisi normal. “Misalnya normal 100 persen, kena pandemi turun jadi 50 persen, sekarang masuk musim hujan turun lagi 30 persen,” ungkapnya, Minggu (1/11).

Ia menyatakan, omzet normal per bulan lebih dari Rp 40 juta. Saat pandemi turun menjadi antara Rp 20 juta – Rp 25 juta. Kemudian memasuki musim penghujan akhir Oktober hingga awal November hanya menyisakan sekitar Rp 15 juta per bulan.

Industri Kecil dan Menengah (IKM) Batik miliknya pun kini tidak mempekerjakan karyawan dengan durasi kerja normal. Kendati, sistem pembayaran upahnya yakni borongan atau dikerjakan per kelompok.

“Kerjanya dulu dari 08.00 sampai 15.00. Sekarang dari 08.00 sampai 12.00 saja. Setiap karyawan bisa mengantongi upah Rp 40 ribu, kalau dulu bisa Rp 90 ribu per hari,” beber warga Desa Gebangan, Kecamatan Krejengan tersebut.

Walaupun dalam kondisi sulit, pihaknya tidak memberhentikan karyawan. Akan tetapi hanya mengurangi jam kerja. Sebab, ia menyadari bahwa semua lini saat ini dalam posisi sulit. “Jadi kalau bisa tetap membantu orang lain dengan mempekerjakannya,” katanya.

Akan tetapi, kebijakan yang diambil tetap realistis, terutama mengenai faktor cuaca. Misalnya seharian turun hujan, maka Abrori berhenti produksi. Otomatis para pekerjanya pun tidak perlu masuk kerja. “Kalau hujan, libur kerja. Tidak ada produksi,” tegasnya.

Upaya industri batik bertahan saat pandemi terbilang cukup berhasil. Saat awal pandemi, para perajin yang biasa memproduksi kain batik mulai beralih ke produksi masker batik sebagai pelindung dari paparan virus corona. “Dijual Rp 5 ribu per masker. IKM batik bekerjasama dengan tukang jahit lokal. Jadi perputaran uang tetap di wilayah Probolinggo,” ucapnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, produksi masker semakin banyak dan dilakukan oleh banyak kalangan, sehingga para perajin batik kembali pada usaha murninya yakni menjual kain batik. “Sekarang satu jenis usaha saja,” pungkasnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel