Sosbudpar

Kumpulkan Minyak Jelantah, Cegah Warga Konsumsi Minyak Curah


PROBOLINGGO-Yayasan Komunitas Kritis Indonesia (YKKI) Cabang Kota Probolinggo punya gawe yang patut diapresiasi. Mereka mengumpulkan minyak jelantah, agar tidak dikonsumsi. Apa tujuannya?

Namanya Budha Utami. Usianya 55 tahun. Dia merupakan ketua Cabang YKKI Kota Probolinggo. Saat ditemui di warungnya, Senin (19/10) siang, Budha Utami (55) membenarkan kalau dirinya, pengurus dan anggota YKKI memiliki kegiatan mengumpulkan minyak goreng bekas (jelantah) dengan cara dibeli atau dikulak.

Tujuannya untuk menekan angka penjualan minyak jelantah ke pengepul, yang nantinya oleh pengepul dijual lagi ke produsen minyak curah. Oleh produsen, minyak jelantah yang sudah diproses dijual lagi dalam bentuk minyak curah. Padahal, makanan yang digoreng dengan minyak curah pantang untuk dikonsumsi karena akan mendatangkan penyakit.

Lantas bagaimana caranya agar masyarakat tidak menjual minyak jelantahnya ke pengepul yang tidak bertanggungjawab? Caranya, menurut Utami, minyak jelantan dibeli atau dikulak.

Dengan demikian, pengepul akan kekurangan stok yang akan berimbas kepada ketersediaan bahan baku minyak jelantah. Sehingga, produsen minyak curah kekurangan atau kesulitan mencari minyak jlantah, sebagai bahan baku. “Mata rantai jual-beliannya kita putus. Produsen minyak curah akan kesulitan bahan baku,” ujar Utami.

Mengenai harga beli atau kulak minyak jelantah, diakui lebih mahal di tangan pengepul. YKKI membeli minyak jelantah dari warga Rp 2.500 per liter. Sedangkan pengepul member harga Rp 3.500 sampai Rp 4.000.

Meski kalah dalam harga, namun Utami tidak patah arang. Yayasan yang dia ikuti memiliki cara sendiri untuk meyakinkan warga, agar menjual minyak goring bekasnya ke kelompoknya.

Ia bersama pengurus dan anggota YKKI melakukan sosialisasi tentang bahaya menggoreng makanan dengan minyak curah. Baik mengundang warga atau sosialisasi langsung ke rumah dan warung. “Kami yakinkan warga soal bahaya minyak curah bagi kesehatan. Jangan hanya memburu uang, tetapi kesehatan lebih penting. Jangan sampai diri kita dan anak-cucu kita menjadi korban. Kasihan mereka,” tandasnya.

Utami berterus terang, sudah melakukan sosialisasi dan kulakan minyak jelantah, namun hasilnya belum begitu banyak. Mengingat, ia baru tanggal 17 September lalu mendapat SK dan ditunjuk sebagai ketua cabang YKKI.

Pihaknya baru menyetor 18 liter minyak jelantah ke YKKI pusat dan ada beberapa liter yang disimpan di warungnya. “Per 18 liter disetor. Ini sisanya. Kalau nyampai 18 liter, ya kami setor,” tambahnya.

Soal keuntungan, tidak terlalu dipikirkan. Yang penting menurutnya bisa menyelamatkan kesehatan masyarakat. Perempuan yang tinggal di Perumahan Firdaus, Kelurahan Kedopok, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo ini menyebut keuntungan per 18 liter hanya Rp 35 ribu. Rinciannya, harga kulak per 18 liter Rp 45 ribu dan dijual ke YKKI Rp 70 ribu.  

Ditambahkan, minyak jelantah yang dikirim ke YKKI Pusat di Bogor akan diproses menjadi bio diesel untuk bahan bakar mesin diesel.  YKKI pusat telah bekerja sama dengan perusahaan yang mengolah minyak goreng bekas menjadi bio diesel.

“Minyak jelantah ini dijadikan bio diesel. Yayasan kami sudah bekerjasama dengan perusahaan yang memproduksi minyak diesel. Jadi bukan untuk diproses menjadi minyak curah,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel