Sosbudpar

Bangkit dari Pandemi, Pelaku Jasa Wisata Bromo Beralih Usaha Peternakan


SUKAPURA – Sejak akhir Agustus lalu, wisata Gunung Bromo dibuka untuk umum dengan protokol kesehatan lengkap. Dua bulan berjalan, ternyata wisata Gunung Bromo juga belum bisa kembali normal dengan berbagai macam alasan. Karena kondisi itu pula, sebagian pelaku usaha wisata di kawasan tersebut ada yang beralih ke sektor peternakan untuk bisa bangkit ditengah pandemi Covid-19 ini.

Sebuah mushola di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura terlihat baru selesai dibangun. Tak jauh dari mushola tersebut ada sebuah tempat wisata yang juga masih dalam tahap pembangunan. Tempat yang bernama Lava Hill itu menjadi salah satu tempat dengan fasilitas biang lala yang berada di pojok tempat itu.  

Sepintas, kawasan ini mirip dengan alun-alun Kota Batu Jawa Timur. Hanya, tempat itu belum dibuka untuk umum karena masih dalam pembangunan oleh pihak pengelola.

Tempat hiburan itu bisa menampung rombongan berskala besar untuk ke kawasan Gunung Bromo. Lebih dari 10 unit jeep sedang parkir di tempat mushola tersebut dengan diselimuti terpal biru. Sebagian lainnya juga ada di sisi utara dari masjid yang diparkir tanpa penutup.

Tak ada aktivitas wisata di tempat tersebut, ya hanya menjadi tempat parkir jeep. Puluhan jeep itu jenis Toyota Landcruiser FJ40 atau hardtop. Bukan sedang menunggu tamu untuk berangkat ke Gunung Bromo, melainkan jeep buatan tahun 1978 hingga 1982 itu sedang dipajang untuk dijual oleh pemiliknya, Heri, yang juga pemilik operator jeep Sumber Makmur (SM).

“Memang mau dijual semua. Ya kalau ada yang minat bisa langsung cek ke lokasi, harga bisa dibicarakan di tempat, mulai Rp 90 juta ke atas,” kata Marlin, yang kebetulan berada di lokasi sedang manasi mesin salah satu jeepnya.

Marlin sendiri menjadi saudara dari Heri SM, tepatnya keponakan. Namun, semua urusan untuk jeep dan dunia wisata di kawasan Gunung Bromo itu Marlin alias Bulin yang menangani. Dia menyambut para tamu SM bersama kerabat lainnya, Santo dan Bakri.

Saat memanasi jeep itu ternyata di atas kranjang jeep ada jagung dan tumpukan rumput kering. Bukan untuk dijual, tapi semua bahan itu untuk pakan ternak miliknya dan juga milik Heri SM.

Aktivitas seperti ini sudah hampir lima bulan berjalan. Seiring dengan tidak adanya pemasukan dari dunia wisata membuatnya berpikir keras agar para supir dan krewnya masih ada pemasukan meski Bromo ditutup.

Seperti yang diketahui, Wisata Gunung Bromo ditutup untuk umum karena pandemi Covid-19 mulai 18 Maret 2020. Baru tanggal 1 Oktober 2020, reaktivasi wisata Gunung Bromo kembali dibuka oleh Pengelola Balai Besar Taman Nasional Bromo tengger Semeru (BB TNBTS).

Tak jauh dari mushola milik SM itu ternyata ada bangunan baru. Rupanya bangunan itu merupakan kandang sapi perah. Kandang dengan ukurang 15 x 10 meter itu berisi 12 ekor sapi. Sejumlah 12 ekor sapi ini dibeli peternakan SM dari hari penjualan kendaraan jeepnya yang sudah laku saat masa pandemi Covid-19.

Semua sapi ini ternyata sudah produksi susu setiap harinya. “Setiap sapi perharinya bisa memproduksi susu sapi 10 liter, ya rata-rata kita sudah memproduksi 120 liter susu murni,” katanya.

Dari susu murni ini yang menjadi pemasukan utama grup SM. Pembelinya masih dari sekitar Sukapura hingga Kraksaan. “Salah satu pabrik sudah ada yang masuk ke sini. Cuma  produksinya masih belum maksimal, kecuali jumlah sapinya bertambah,” jelas Bulin.

Pria 47 tahun ini mengatakan, meski tidak sebanyak penghasilan wisata, namun itu bisa dikatakan cukup. Apalagi untuk pemasukan krunya selama pandemi. “Semua supir yang biasa nyupiri jeep ada di kandang semua saat ini, ya bantu peternakan ini,” katanya.

Pengembangan peternakan ini ternyata tidak hanya untuk menjual susu murni, tapi ke depan pihaknya akan mengembangkan agrowisata yang sampai saat ini belum tergarap di kawasan Gunung Bromo. “Sudah dipikirkan ke arah sana. Pak Heri (pemilik SM, red) juga akan mengembangkan ini, termasuk untuk mendirikan koperasi ternak di Sapikerep,” ujarnya.

Bahkan, warga di sekitar lokasi juga sudah ada rencana bergabung ke tempat usaha ini. Mereka juga akan membeli sapi untuk kemudian susu murninya dijual ke peternakan SM. “Sudah banyak yang daftar, banyak yang akan ikut gabung,” kata Bulin.

Rajiman, salah satu driver SM juga merasakan perubahan jenis bisnis dari SM. “Ya lumayan. Daripada menganggur. Bersyukur lah ada pemasukan di tengah pandemi. Nggak banyak, tapi cukup untuk keluarga,” kata pria 23 tahun ini.

SM sendiri merupakan operator jeep yang biasa menerima tamu berskala besar. Berdiri tahun 2011 silam, atau setahun setelah erupsi panjang pada tahun 2010 silam. Saat itu, SM hanya memilik satu jeep untuk mengantar tamu. Lalu usaha ini berkembang hingga pernah mempunyai 25 unit jeep yang biasa mengantarkan tamu ke kawasan Gunung Bromo.

Mulanya, penambahan jeep itu lantaran banyaknya pemuda yang keleleran. “Ya akhirnya mereka dibelikan jeep, hingga 25 jeep,” jelas Bulin.

Tidak hanya jeep, tapi juga mempunyai kendaraan Elf hingga kendaraan lainnya. Bahkan, hotel SM juga berdiri di Desa Ngadas. SM mempunyai anggota lebih dari 35 unit jeep hardtop yang biasa menganyar tamu. Belum lagi anggotanya yang kebanyakan kendaraan Taft GT sebagai pendukung saat kekurangan jeep.

Termasuk pada tahun 2016 silam, atau saat erupsi akhir tahun 2015 lalu, SM mengembangkan bisnisnya di toko obat pertanian. Toko yang berada tak jauh dari kantor kecamatan Sukapura sampai saat ini maju pesat.

Namun, pandemi membuat usaha jasa wisata SM meredup. SM siap beralih ke usaha peternakan sapi perah. Aset yang berbau wisata saat ini sedang diproses untuk dijual, mulai dari jeep hingga hotel dengan 18 kamar tersebut. “Ya, semuanya akan dijual. Kemungkinan nanti akan diubah ke sektor peternakan,” terangnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel