Sosbudpar

Wisata Rintisan Baru di Probolinggo: Bukit Watu 99


KOTAANYAR – Potensi wisata alam di Kabupaten Probolinggo seakan tidak ada habisnya. Setelah Bukit Betitang di Kecamatan Tiris yang viral pada 2020 ini, kali ini kembali ada wisata pegunungan lainnya yang tak kalah indah, yakni wisata ‘Bukit Watu 99’ di Desa Tambakukir, Kecamatan Kotaanyar.

Wisata yang namanya masih asing terdengar ini ternyata memiliki keindahan yang mampu membuat pengunjung betah berada di lokasi tersebut. Banyak spot pemandangan yang bisa dinikmati para wisatawan di lokasi tersebut. Salah satunya awan yang dikelilingi oleh gunung, serta jutaan bintang terlihat jika malam hari.

Bukit Watu 99 sendiri sudah menerima kunjungan wisata sejak Juli 2020 lalu, bahkan para wisatawan tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati pemandangan di lokasi tersebut. Pengunjung hanya perlu membayar uang parkir sebesar Rp 2 ribu.

“Alhamdulillah, sejak 3 bulan lalu lumayan pengunjung meski terbilang baru, kecuali hari Minggu pengunjung bisa sampai 200 orang atau lebih. Maklum namanya juga masih wisata baru,” kata pengelola Bukit Watu 99 Abdul Kholik, Minggu (11/10).

Berdirinya wisata yang di sebut Negeri di Atas Awan ini masih belum ada campur tangan pemerintah. Hingga saat ini, pengembangan wisata tersebut masih murni dari jerih payah segelintir pemuda setempat yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Belum, belum ada bantuan dari pemerintah. Ini memang inisiatif bersama sejak pandemi Covid-19 melanda, agar para pemuda di sini tetap memiliki penghasilan meskipun tidak keluar untuk bekerja. Masih 8 orang desa yang kami rangkul untuk mengelola,” katanya.

Menurut pria 35 tahun ini, untuk sampai ke Bukit Watu 99 ini, wisatawan tak perlu khawatir, karena akses jalannya tidak rumit. Bahkan, kata dia, meskipun tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat tapi masih bisa sampai dengan kendaraan roda dua.

“Dari batas kecamatan satu jam, kalau naik mobil akan parkir di rumah saya, kemudian diantar pakai sepeda motor sekitar 5 menit ke lokasi tanpa ongkos. Parkir saja itu kami tarik seikhlasnya, mau bayar tidak apa-apa tidak bayar juga tidak apa-apa,” ungkapnya.

Selain menyajikan pemandangan awan di tengah-tengah gunung, wisawatan bisa menikmati seribu bintang di malam hari dengan catatan harus menginap atau camping. Itupun, menurut dia, juga tidak ditarik ongkos sepeserpun.

“Tapi karena lokasinya jauh dari keramaian, kalau ada yang mau camping kami minta beberapa pemuda untuk menjaganya. Sebagai upah lelah, kami hanya minta Rp 5 ribu untuk 1 orang penjaga. Kalau untuk yang lainnya tidak ada ongkos lagi,” ujarnya. (ay/awi)


Bagikan Artikel