Sosbudpar

Takut Divonis Terpapar Covid-19, Warga Takut Berobat ke Rumah Sakit


PROBOLINGGO – Pandemi Covid-19 di Kabupaten Probolinggo rupanya membuat sebagian warga seperti ‘alergi’ untuk datang berobat ke rumah sakit. Diduga, situasi ini antara lain dipengaruhi ketakutan warga akan divonis terpapar Covid-19, mengingat rumah sakit ikut menangani pasien positif.

Seperti pengakuan salah seorang warga Desa Sumberbendo kecamatan Sumberasih berinisial MS (37). Ia mengaku takut untuk berobat ke sejumlah fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik yang ada di dekat tempat tinggalnya.

Jangankan untuk datang ke faskes, MS mengaku takut untuk datang berobat ke bidan desa setempat. Alasannya tak lain karena dia khawatir dinyatakan positif Covid-19 alih-alih dinyatakan sakit flu biasa.

“Saya ingin sekali berobat, tapi kalau kondisi pandemi seperti saat ini. seluruh penyakit kalau diperiksa di faskes pasti nantinya disebut kena Covid-19. Daripada saya nanti diisolasi atau dikarantina, lebih baik saya berobat mandiri saja dirumah pakai obat seadanya,” ungkapnya, kepada Koran Pantura, Selasa (6/10).

MS menyampaikan ketakutannya itu pasalnya telah banyak warga yang dinyatakan positif Covid-19, namun selang beberapa hari kemudia dinyatakan sembuh. Padahal logikanya ada masa 14 hari karantina sesuai aturan untuk memastikan seorang pasien positif atau negatifnya.

“Tapi faktanya banyak kok yang hanya dua sampai tiga hari dirawat setelah dinyatakan reaktif, kemudian mereka dipulangkan. Alasannya ternyata bukan Covid-19. Ini kan sudah tidak benar. Apa mereka tidak memikirkan dampak sosialnya dimasyarakat kalau seseorang dinyatakan positif Covid-19,” papar MS.

Oleh karena itu, disebutkan MS bahwa kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini adalah puncak dari ketidak percayaan masyarakat pada pemerintah atas penanganan Covid-19 melalui satgas Covid 19-nya.

“Mau percaya bagaimana, kalau mereka seenaknya mempositifkan seseorang terpapar covid-19 tanpa alasan dan bukti yang kuat. Makanya masyarakat yang sedang sakit seperti saya, lebih baik berobat dirumah saja daripada di faskes,” sebutnya.

Sementara itu, Jubir Satgas Penanganan Penyebaran Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Veronika sangat menyayangkan atas apa langkah yang diambil oleh warga seperti MS. Pasalnya, mindset apapun penyakitnya pasti Covid-19 itu adalah sebuah ketakutan dan kesimpulan yang sangat tidak berdasar dan akan merugikan diri sendiri serta masyarakat, bahkan merugikan kepada faskes.

“Seorang dokter mendiagnosa seorang pasien dengan dasar hasil pemeriksaan fisik maupin penunjang (laboratorium, rontgen, dan lainnya). Jadi sangat tidak mungkin seseorang dicovidkan tanpa adanya dasar pemeriksaan,” ujarnya.

Disebutkannya pula kementerian kesehatan mempinyai regulasi tersendiri terkait penatalaksanaan pandemi Covid-19 ini. Sehingga adanya kriteria suspek, probable, dan konfirm itu, juga berdasarkan hasil pemeriksaan klinis.

Dokter Dewi meminta agar masyarakat bersama-sama menyikapi pandemi covid-19 ini secara bijak. Yakni dengan menjadi masyarakat yang cerdas dengan tidak mudah menerima berita-berita yang tidak jelas dasarnya. “Terlebih di era keterbukaan ini sangat mudah orang menyampaikan pendapatnya, namun semua itu harus berdasarkan fakta dan data yang benar. Sehingga janganlah takut memeriksakan diri ke faskes karena itu demi kebaikan bersama, bukan hanya untuk diri sendiri,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel