Sosbudpar

Harjakot Probolinggo ke-661, Teracak Gir Siring di Pantai Permata


PROBOLINGGO – Sejumlah 150 penari tampil di Pantai Permata, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Minggu (27/9) sore. Acara yang digelar mulai sekitar pukul 15.30 tersebut menjadi puncak peringatan Hari Jadi Kota (Harjakot) Probolinggo ke-661.

            Kegiatan tari masal ini digelar Pemkot Probolinggo bersama Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) dengan tajuk Teracak Gir Siring atau jejak-jejak tepi pantai. Dalam kegiatan ini ada 150 penari yang terlibat. Mereka berasal dari dua sanggar seni tari di Kota Probolinggo, yaitu sanggar Bina Tari Bayu Kencana dan sanggar Mardi Budoyo.

            Sore itu ada tiga tarian yang disajikan medley. Diawali tari kiprah lengger yang dibuka dengan para bocah ganongan reog. Mereka tampil tanpa panggung dan berlatar belakang rimbunan mangrove.

            Selanjutnya ditampilkan seni reog Ponorogo. Lalu sebagai penutup Teracak Gir Siring edisi perdana ini adalah tari Jaran Bodhag.

Tak banyak yang menonton acara yang baru pertama digelar tersebut. Ini karena panitia memang menutup pintu untuk penonton umum. Karena masih pandemi Covid-19, panitia menyajikan acara ini kepada masyarakat umum melalui siaran live streaming.

Dalam kegiatan ini, protokol kesehatan diterapkan. Para penari tampil dengan mengenakan face shield. Para pendamping yang diperkenankan masuk lokasi, diwajibkan memakai masker dan diukur suhu tubuhnya.

Bahkan penonton juga diatur jaraknya. Pengunjung yang bergerombol dihalau oleh petugas. Kursi undangan pun diberi jarak.

Walikota Hadi Zainal Abidin hadir ditemani istri. Begitu pula dengan Wawali Soufis Subri. Menurut Walikota, kegiatan Teracak Gir Siring ini digelar dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo ke-661. “Kami mencoba melestarikan tarian asli sini, Jaran Bodhag,” ujarnya.

Walikota berencana menggelar acara serupa di lokasi yang sama di tahun berikutnya. Selain mengajak masyarakat untuk cinta dan peduli terhadap lingkungan alam, acara ini juga untuk ajang promosi Pantai Permata, Pilang. “Ini destinasi baru yang kita miliki. Makanya perlu dipromosikan,” kata mantan anggota DPR RI ini.

Menurutnya, pemkot akan terus membangun dan mengembangkan destinasi yang terbentuk oleh erupsi Gunung Bromo pada 2010 itu. Pasir sisa erupsi Gunung Bromo telah menimbun ribuan tanaman mangrove. Pantai yang dulunya hanya lumpur, kini berubah menjadi pantai pasir.  

“Pantai Permata ini kami jadikan ikon. Makanya, akan kami kembangkan terus. Ini anugerah Tuhan. Bencana tidak selamanya membawa petaka. Buktinya pantai ini sudah bisa menyejahterakan warga sekitar, dengan berjualan,” tandasnya.

Hal senada juga diungkap Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Budi Kisyanto.  Pihaknya mengajak pegiat seni untuk tampil di Pantai Permata dalam rangka hari jadi, sebagai ajang promosi agar pantai yang luasnya puluhan hektar tersebut menjadi ikon kotanya.  “Destinasi ini perlu dipromosikan. Pak Wali mendukung cara ini,” katanya.

Menurut Budi, semula jumlah penari ada 661 orang, sesuai angka harjakot ke-661. Tetapi karena masih pandemi virus corona, akhirnya dikurangi menjadi hanya 150 orang. “Awalnya 661, namun karena pendemi kita kurangi. Yang ngisi sanggar-sanggar seni di bawah komando Dewan Kesenian,” jelasnya. 

Sedangkan Ketua DKKPro Peni Priyono mengatakan, kegiatan Teracak Gir Siring bisa dijadikan agenda tahunan. Kesenian yang ditampilkan dalam Teracak Gir Siring tidak hanya tarian, bisa juga pagelaran musik. “Intinya kita ingin ikut menyemarakkan Pantai Permata dengan kesenian,” katanya usai acara kemarin. (gus/iwy)         


Bagikan Artikel