Sosbudpar

Bromo Buka, Okupansi Hotel Rendah


SUKAPURA – Sudah sepekan wisata Gunung Bromo dibuka kembali. Namun, reaktivasi wisata Gunung Bromo ini masih belum terlalu dirasa dampaknya bagi kalangan pengelola hotel dan restoran di kawasan lereng Gunung Bromo. Okupansi hotel misalnya, disebutkan masih rendah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo Digdoyo Djamaluddin menyatakan memang masih ada banyak kendala. Salah satunya karena masih adanya kuota atau pembatasan jumlah pengunjung. “Sejak  Bromo  di buka,  tamu yang  bermalam  belum  ada peningkatan,” jelasnya, Rabu (9/9).

Bahkan pria yang karib disapa Pakde Yoyok ini menyebut beberapa hotel dari awal buka hingga saat ini hanya menerima pesanan dua kamar. “Masih sering hotel-hotel kosong. Kadang isi dua kamar atau satu kamar saja. Apalagi seperti Hotel Yoschi’s dan Lava View yang memang mayoritas tamu asing,” katanya pemilik Hotel Yoschi’s ini.

Menurutnya, belum adanya peningkatan hunian hotel atau okupansi ini salah satunya karena memang sampai saat ini Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) belum mengizinkan masuknya wisatawan mancanegara ke kawasan Gunung Bromo. “Jadi memang tamu yang datang didominasi domestik. Tetapi mereka hanya transit dan tidak bermalam,” jelas Yoyok.

Yoyok menambahkan karena kondisi seperti ini seharusnya memang sudah ada kebijakan dari BB TNBTS. “Ya paling tidak ada kebijakan khusus lah, atau wisman boleh masuk,” katanya.

Tidak hanya hotel, beberapa operator jeep di kawasan Gunung Bromo juga masuk belum buka untuk rombongan. Salah satunya karena penerapan wisata di Gunung Bromo sangat ketat.  “Ketika ada rombongan keluarga ke Bromo, kemudian anaknya yang masih kecil dilarang ikut, mereka langsung cancel dan memilih ke tempat lain di Jawa Timur,” kata Harno, seorang operator jeep.

Harno mengatakan beberapa masukan dari wisatawan seharusnya didengar oleh BB TNBTS. Salah satunya, mereka berwisata ke Gunung Bromo dengan maksud mencari kenyamanan dan ketenteraman bersama keluarga.

“Tamu bilang, ketika mereka sakit, ya mereka yang bayar. Masuk sewa jeep, bayar tiket, semuanya mereka yang bayar. Kenapa harus ada aturan seketat ini. Anak kecil juga dilarang masuk. Padahal kalau ada apa-apa, ya ditanggung tamu sendiri,” katanya.

Begitu juga dengan rombongan yang harus membawa surat sehat. “Padahal seharusnya jika sudah ada pembatasan penumpang di jeep, sudah dimodifikasi dengan sekat, sudah tidak berlaku surat sehat. Jangan bikin ribet wisatawan,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubag Data Evaluasi dan Kehumasan BB TNBTS Syarif Hidayat mengatakan, aturan ketat wisata Gunung Bromo merupakan bagian dari SOP yang sudah disepakati empat daerah pintu masuk kawasan Gunung Bromo. Itu semua demi mencegah klaster baru Covid-19 dari wisata Gunung Bromo.

“Sementara, untuk wisatawan mancanegara, sampai saat ini belum ada aturan lanjutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Artinya, sampai saat ini Bromo masih tertutup untuk wisatawan mancanegara,” terangnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel