Sosbudpar

Sekedar Ambil Wudlu, Lansia Tuna Netra Ini Harus Sisir Tebing 30 Meter


MARON – Perjalanan hidup Saderi di usia 65 tahun semakin berat. Warga Dusun Krajan, Desa Brabe Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo ini sudah sekitar 20 tahun ini menjadi tuna netra. Dengan kondisi tubuh renta, Saderi yang tuna netra harus menjalani semua aktivitas sehari-harinya seorang diri. Bahkan untuk mengambil air wudlu, ia harus meniti tebing menuju dasar sungai seorang diri.

Benar-benar memilukan nasib Saderi. Ketika Koran Pantura mendatangi rumahnya, pada Minggu (6/9) siang, ia tengah ditemani oleh sang istri, Supina (58). Rumah yang ditinggali pasangan suami istri ini sangat sederhana. Rumah itu pernah mendapat bantuan program rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), oleh pemerintah desa setempat beberapa bulan yang lalu.

Pasangan suami-istri (pasutri) Saderi-Supina setiap harinya hanya menunggu tetesan rezeki dari tetangga dan donatur. Dua anaknya kini sudah tidak lagi tinggal bersama mereka. Anak pertama sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya. Sedangkan anak kedua pergi merantau.

Kehidupan pasutri Saderi-Supina di usia senja jelas butuh sentuhan. Saderi mengalami kebutaan kedua matanya sejak 20 tahun lalu. Sejak awal menjadi tuna netra sampai kini, Saderi tidak bisa bekerja lagi. Maka, setiap harinya dia hanya banyak diam di rumah menemani istrinya.

Kebutaan Saderi itu berawal ketika ia menggali sumur tetangganya. Memang saat masa sehatnya, Saderi bekerja sebagai tukang gali sumur dan tukang pijat.

Ceritanya, pada saat menggali sumur yang terakhir kali, Saderi menyentuh tanah angker.

Karena pada dasarnya, menggali sumur dalam tradisi adat desa, tidak begitu saja dilakukan. Dalam tradisi adat, untuk menggali sumur, harus memperhitungkan hari, tanggal dan tempatnya. Terutama agar tanah yang digali tepat pada sumber mata air.

Namun, saat itu Saderi justru lupa dan kurang hati-hati. Sehingga saat menggali, tak sengaja ia mengenai tanah terlarang. Tiba-tiba saja Saderi tidak bisa melihat sampai saat ini. 

Keluarganya pun tak bisa membawa Saderi ke dokter dengan alasan tidak punya cukup uang. Saderi akhirnya menjalani nasibnya itu dengan banyak diam di rumah menjadi tukang pijat saja. “Tapi sejak corona kaentoh, sobung se pecet pole pon (Sejak corona ini, sudah tidak ada yang pijat lagi, red),” kata Saderi.

Yang bikin miris melihat keseharian Saderi ialah karena ia tidak memiliki kamar mandi di rumahnya. Sehingga Saderi haru berjalan kaki seorang diri ke dasar sungai. Jarak antara rumah dan tebing sungai itu sekitar 25 meter. Sementara ketinggian tebingnya sekitar 30 meter.

Tebing yang cukup terjal itu harus dialui Saderi setiap hendak mandi maupun ambil wudlu. Dan itu harus dia lakukan seorang diri. Saderi meniti tebing itu hanya dengan dibantu tongkat kayu.  

“Gi jelen dibik. Dekremmah pola. Gi onlaon takok labu. (Ya jalan sendiri. Mau gimana lagi. Ya pelan-pelan takut jatuh, red),” ucap Saderi.

Naik turun tebing untuk ambil air wudlu itu sudah dilakoni Saderi selama 20 tahun. Sebab ia tak punya kamar mandi. Selama ini ia mengaku tak ada yang berencana untuk membangunkan kamar mandi untuknya.

“Gi mek pola bedeh se agebeiagina. Kuleh senneng. Nek binek nekah pon seppo jugen. (Barangkali ada yang membuatkan. Saya senang. Istri saya juga sudah tua, red),” tutur Saderi. (yek/iwy)


Bagikan Artikel