Sosbudpar

Tembakau Panen, Gudang Belum Buka


KRAKSAAN – Tidak sedikit petani yang telah memanen tembakaunya. Namun, hingga saat ini ada sebuah gudang tembakau besar di Kabupaten Probolinggo yang belum memulai pembelian. Hal itu mendapatkan tanggapan dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) setempat.

Ketua APTI setempat Mudzakkir menyayangkan sikap gudang tembakau yang belum memulai pembelian tembakau dari petani. Padahal sebelumnya sudah beredar informasi bahwa pembukaan gudang tersebut akan dilakukan kemarin (27/8). “Katanya hari ini (kemarin, red) buka. Tapi ditunda lagi. Gudang itu katanya masih tanggal 1 (September, red) dibuka,” katanya, kemarin.

Ia berharap, pihak gudang tidak lagi menunda pembukaannya. Sebab sudah banyak petani yang memanen tembakaunya. “Kalau ditunda-tunda terus, kasihan petaninya. Mereka terus keluar biaya, tapi ketika mau jual gudangnya masih tutup,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia berharap harga tembakau bisa lebih tinggi dari harga yang ada saat ini. Sebab, dengan kisaran harga yang ada saat ini bisa menyebabkan kerugian bagi para petani.

“Sekarang para pengepul itu ambil (beli, red) di petani paling tinggi Rp 35 ribu per kilonya. Paling rendah Rp 27 ribu. Kalau berbicara untung, jelas ini kurang menguntungkan petani,” paparnya.

Agar bisa untung, menurutnya harga tembakau harus tembus angka Rp 40 ribu per kilogram. Sebab, biaya perawatan tembakau tahun ini terbilang lebih mahal dari tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang biaya tanam hingga panen Rp 24 juta per hektare. Jadi, harga tembakau memang harus menyentuh Rp 40 ribu, atau paling jelek Rp 35 ribu lah, biar petani itu dapat untung, bukan dapat capeknya,” ungkapnya.

Imam Wahyudi, seorang petani tembakau dari Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan berharap, gudang bisa segera buka. Ia juga berharap harga mengalami kenaikan.

“Kalau gudang sudah buka, patokan harganya kami kan bisa tahu. Tentunya kami berharap harganya bisa tinggi, biar makmur kami (petani, red) ini,” ungkapnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel