Sosbudpar

Manfaatkan Waktu selama Pandemi, Pelajar Probolinggo Bekerja sambil Belajar di Cafe


PROBOLINGGO – Pandemi corona dimanfaatkan oleh Muhammad Taufiq Hidayat dan Muhammad Taufiq Armansyah untuk belajar bekerja, sambil mendalami pelajaran sekolahnya. Selama sekolah belum menerapkan tatap muka langsung, keduanya menerima tawaran bekerja sementara di bolinggo café & distro di Kota Probolinggo. 

Muhammad Taufiq Armansyah yang karib disapa Arman, duduk menghadap komputer.  Sedangkan Muhammad Taufiq Hidayat yang lebih karib disapa Taufiq, berdiri di sampingnya. 

Di monitor komputer yang dihadapi Arman, ada foto tawuran pelajar. Lalu di bawah foto itu tertulis pertanyaan: mengapa bisa terjadi tawuran?

“Tugas opo sih iki?” tanya Taufiq.

“HAM (Hak Azasi Manusia),” jawab Arman sambil tetap menghadap monitor.

“HAM kok tawuran?”

“Topike HAM, aku milih sub topik tawuran. Apa saja penyebab orang tawuran?” kata Arman dengan nada meninggi. Pandangannya masih tetap tertuju ke monitor komputer dan tangan di atas tuts keyboard.

“Adanya provokator…” ujar Arman menjawab pertanyaannya sendiri. “Opo maneh yo?”

Taufiq memilih diam saja.

“Lontong kikil ada ya?” tanya seorang perempuan yang mengejutkan Arman dan Taufiq. Perempuan berkemeja putih lengan panjang, berkerudung, dan mengenakan bawahan gelap itu adalah seorang staf di Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo.

“Ada. Dibungkus atau dimakan di sini?” tanya Taufiq.

“Satu dimakan di sini, lima dibungkus,” jawab perempuan yang berkunjung di bolinggo café & distro pada Rabu (29/7) pagi pukul 09.50 atau sepuluh menit sebelum jadwal buka café tersebut.

Taufiq dan Arman meninggalkan tugas sekolahnya sejenak, lalu meladeni pesanan.

Taufiq dan Arman sama-sama duduk di kelas XI SMKN 1 Kota Probolinggo. Dua remaja bertubuh ceking itu sebenarnya teman sekelas di jurusan akuntansi. Mereka sama-sama sedang memanfaatkan masa belajar di rumah di masa pandemi corona ini dengan cara belajar bekerja.

Pada akhir Juni lalu mereka berdua ditawari bekerja di bolinggo café & distro yang terletak di Jl Soekarno – Hatta 36 Kota Probolinggo. Konon, tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menjawab tawaran tersebut. “Daripada diam saja di rumah, kan lebih baik belajar bekerja. Cari pengalaman,” kata Taufiq.

Taufiq yang berumur 16 tahun, tinggal di Kelurahan/Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo. Dia anak kedua dari dua bersaudara. Keluarganya mengandalkan penghasilan dari bapaknya yang bekerja sebagai tukang bangunan.

Arman yang berusia 17 tahun, merupakan warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan  Kedopok Kota Probolinggo. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Bapaknya berwiraswasta, tepatnya berdagang komoditi pertanian, sampai menyediakan jasa pengiriman barang menggunakan pikap.

Sebelum mengiyakan tawaran bekerja di bolinggo café, Taufik dan Arman diwajibkan meminta izin dari kedua orang tuanya. Jika orang tua melarang, penawaran dibatalkan.  “Alhamdulillah, kami sama-sama sudah diizinkan orang tua bekerja di sini selama belum kembali masuk sekolah,” kata Arman.

“Mas, sebentar lagi ada lagi dua teman saya yang mau makan kikil. Nggak apa-apa ya…” sela perempuan staf kelurahan yang sedari tadi terlihat sangat hidmat menikmati seporsi menu lontong kikil di depannya.

“Iya Bu, tidak apa-apa,” jawab Taufiq.

“Enak kikilnya mas, sueger. Ini masih belum banyak orang yang tahu ada lontong kikil di sini. Dikiranya cafenya cuma jualan kopi. Kalau banyak yang tahu, pasti ketagihan,” kata perempuan bernama Hariyani itu.

Bagi Taufiq dan Arman, belajar bekerja di bolinggo café ini rasanya menyenangkan. Selain bisa belajar mencari uang sendiri, mereka juga tetap bisa mengerjakan tugas sekolah di café. “Ada komputer yang dibolehkan kami pakai untuk mengerjakan tugas sekolah. Wifi untuk internetan juga ada,” sahut Arman.

Lalu yang lebih penting, Taufiq dan Arman sama-sama memilih jurusan akuntansi. Dan di café, mereka juga diwajibkan membuat laporan keuangan harian. “Jadi, ini rasanya sedang belajar bekerja, cari pengalaman, sekaligus mendalami dan praktik ilmu akuntansi secara langsung,” tutur Taufiq sambil membungkus lima porsi lontong kikil.

Café tempat Taufiq dan Arman bekerja ini terbilang masih sangat baru. Pada pertengahan Februari 2020 lalu bolinggo café & distro mulai buka. Tetapi akhir Maret sudah langsung kena dampak pandemi.

Pengelola bolinggo café memilih tutup usaha karena kebijakan ketat stay at home dan social – physical distancing. Maklum, selama kebijakan ketat social-physical distancing itu, kota tak ubahnya kota mati.

Juni akhir, pandemi belum berakhir. Tetapi dengan wacana normal baru, pemerintah bersiap mulai membuka sedikit kelonggaran agar perekonomian tidak ambruk. Pengelola bolinggo café menyambut kelonggaran ini dengan niat membuka kembali cafenya.

“Tetapi kalau mau buka café dengan menu yang sama seperti sebelumnya, tentu tidak terlalu menarik. Maka kami siapkan satu menu istimewa yang dijamin belum ada di Probolinggo, yaitu kikil sapi khas Sepanjang (Sidoarjo, red),” kata Solihin, salah satu dari tim pengelola bolinggo café & distro.

Kikil sebenarnya berarti bagian dari kulit kaki (Jawa: sikil) sapi atau kambing. Menu kikil sapi menjadi salah satu menu khas yang sangat digemari di Surabaya dan Sidoarjo. Menu kikil sapi banyak digemari karena dimasak sampai lunak di mulut, tetapi tidak kehilangan kekenyalannya.

Sensasi menikmati kikil sapi dilengkapi dengan kuah yang kaya oleh rempah. Menyantap menu lontong kikil semakin nikmat bila ditambah kecrutan jeruk nipis, kecap dan sambal. 

Mulai Rabu 1 Juli 2020, bolinggo café kembali buka dengan menu baru kikil Sepanjang. Taufik dan Arman melayani pengunjung setiap hari kerja. Protokol kesehatan tetap diterapkan di café ini. Di antaranya, pengunjung wajib bermasker dan lebih dulu cuci tangan dengan sabun di tempat cuci tangan yang disediakan.  

“Dan karena masih pandemi, kami buka dengan durasi waktu terbatas. Buka pukul 10 pagi, dan tutup pukul 8 petang. Tetapi kalau sebelum jadwal tutup ternyata menu kikil sudah habis, kami memilih tutup café,” terang Solihin yang juga dikenal sebagai seorang presenter televisi lokal dan MC pernikahan.

Pria asli Situbondo ini menuturkan, hampir satu bulan buka kembali, menu lontong kikil Sepanjang ala bolinggo café mendapat sambutan baik dari masyarakat Probolinggo. Dalam sehari, menu baru lontong kikil di café ini terjual 20-30 porsi. “Kami masih menyediakan jumlah porsi terbatas setiap hari. Selain karena masih pandemi, ini kan juga menu baru. Jadi, masih perlu masa perkenalan dulu,” kata Solihin.

Menurutnya, menu lontong kikil yang disajikan di bolinggo café dimasak dengan rempah-rempah khas kekayaan nusantara. “Rasa kikilnya sangat khas, sangat kaya rempah. Jadi, ini bukan kikil yang dicampur dengan menu bakso, bukan juga menu tahu kikil. Untuk memasak lontong kikil Sepanjang ini chef-nya datang dari Sepanjang langsung,” kata Solihin.

Kini sudah hampir satu bulan Taufiq dan Arman belajar bekerja di bolinggo café & distro. Mereka bersiap menerima gaji pertamanya, hasil keringat sendiri. “Ya senang. Bisa merasakan bayaran hasil kerja sendiri,” kata Arman sambil membetulkan posisi maskernya.

Kelak bila pandemi berakhir dan sekolah kembali dilakukan dengan cara tatap muka, bagaimana nasib Taufiq dan Arman? “Ya mereka harus balik sekolah. Kami akan cari karyawan baru,” kata Solihin. (iwy)  

 

  

 

 

 

 

 

 


Bagikan Artikel