Sosbudpar

Belajar Online Rentan Menyebabkan Kebutaan


KRAKSAAN – Sejak pandemi corona merebak, belajar dari rumah (learning from home) diterapkan oleh pemerintah. Termasuk di Kabupaten Probolinggo. Sekolah-sekolah saat ini masih menerapkan belajar secara visual menggunakan gadget dan televisi secara online.

Komisi Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo pun mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan membuat kurikulum ramah anak. Tujuannya untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya terjadinya rabun atau kebutaan pada murid akibat seringnya menggunakan gadget.

Ketua Komisi Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo dr. Mirah Samiyyah mengatakan, banyak siswa lebih banyak menghabiskan waktunya menggunakan HP untuk bermain game online maupun offline. Hal itu mereka lakukan karena bosan dengan materi ajar. Selain itu juga karena minimnya peran serta orang tua saat anaknya belajar. Banyak orang tua bekerja dan membiarkan anak belajar sendiri di rumah.

“Memang ini menjadi simalakama ya. Efek pandemi ini tidak hanya dampak ekonomi tapi juga dampak pendidikan bagi anak-anak kita. Ini lebih pada pengawasan di keluarga, karena guru memang batasannya cuma memberikan tugas dan lainnya,” ujarnya.

Karenanya, ia mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo membuat kurikulum yang komprehensif. Seperti batasan jam belajar online, guru juga membantu melakukan edukasi dan motivasi. Serta kontrol orang tua pada penggunaan gadget.

“Kalau anaknya dilepas untuk pembelajaran online saja, tanpa pendampingan orang tua, ya namanya juga anak pasti lebih banyak kepada permainan gamenya. Lupa untuk belajar,” terang Dokter Mia, sapaan karibnya.

Kecenderungan menghabiskan waktu bermain HP membuat anak rentan mengalami kebutaan. Hal itu menyebabkan fenomena booming miopa atau anak terkena rabun jauh miopia. Mereka terpapar radiasi yang dipancarkan oleh ponsel dalam waktu yang lama.

Faktor lain yang ikut mempercepat rabun jauh antara lain posisi baca, meja baca tidak memenuhi syarat, dan penerangan ruangan yang kurang. Juga karena dipicu anak tidak pernah berolahraga dan malas gerak. Sehingga kondisi itu akan makin memperburuk.

“Dampak buruknya selain kecanduan kepada gamenya, tentunya berdampak terhadap perkembangan anak. Terutama mata bahaya karena efek radiasi,” kata Dokter Mia. (yek/eem)


Bagikan Artikel