Sosbudpar

Bupati Tantri Curhat Tagihan Listrik Naik 275 Persen


PROBOLINGGO – Ada program stimulus Covid-19 yang digulirkan pemerintah pusat melalui PLN sebagai upaya meringankan beban masyarakat selama pandemi. Itu ternyata membuat sejumlah kalangan yang tidak tercover dalam program tersebut, justru mengalami kejadian berupa tagihan listrik yang melonjak tajam.

Bahkan hal ini juga dialami oleh Bupati Probolinggo Hj. P Tantriana Sari. Ia mengeluhkan tagihan listrik di rumah dinasnya yang melonjak hingga 275 persen jika dibanding bulan sebelumnya. Keluhan tersebut diketahui setelah diunggah kembali oleh akun facebook dengan nama Kang Anas pada Kamis (9/7) lalu.

“Tagihan listrik gila-gilaan. Setelah bulan lalu naik sekitar 75% dari bulan sebelumnya, bulan ini naik 200% dari bulan lalu. Jadi jika dibanding tagihan bulan April, bulan ini naik 275 %. Apakah ada yg mengalami seperti saya? Wajarkah?” tulis Bupati Tantri.

Saat dikonfirmasi, Bupati Tantri membenarkan jika dia mengunggah status tersebut. Namun setelah berkomunikasi dengan pihak PLN, Tantri menghapus unggahan tersebut. Tantri menyebut ada miskomunikasi. “Betul, tapi itu (unggahan, red) sudah saya hapus dari kemarin-kemarin. Hanya miskomunikasi saja, dan PLN janji mengeceknya,” ujar Bupati Tantri, Minggu (12/7).

Menanggapi keluhan orang nomor satu di kabupaten Probolinggo tersebut, Manajer PLN ULP Probolinggo Gery Gerhady menjelaskan bahwa lonjakan tagihan listrik di rumah dinas bupati disebabkan pada bulan Maret dan April petugas tidak membaca meteran. Itu karena masih dalam masa pandemi. “Sehingga ketika pembacaan meteran dimulai lagi pada bulan Juni itu, ada akumulasi tagihan meteran listrik sehingga terasa lonjakan di bulan Juni itu,” jelasnya.

Gery menyebut nilai tagihan listrik di kediaman Bupati Tantri di bulan Juni lonjakannya mencapai sekitar Rp 2 jutaan. Nilai tersebut sesuai dengan hitungan akumulasi tagihan listrik setelah dicocokan dengan meteran fisik yang ada di rumah dinas. “Rumah pribadi Ibu Tantri juga dapat skema perlindungan lonjakan listrik. Jadi 40 persennya dibayar di bulan Juni, lalu 60 persennya dibayar dengan diangsur,” sebutnya.

Dikatakan pula bahwa permasalah lonjakan listrik tersebut telah dikomunikasikannya dengan pihak Bagian Umum Kabupaten Probolinggo. Bahkan Gery mengaku telah datang sendiri ke rumah dinas Bupati Probolinggo untuk menjelaskan duduk permasalahan lonjakan tagihan listrik tersebut.

“Jadi yang ditunjukkan ke Pak Huda staf Bagian Umum itu adalah data pembacaan kita. Jadi kita perlihatkan di bulan April dan Mei kan kita buat rata-rata, tidak ada stan meter, juga tidak ada petugas yang baca. Pada saat pembacaan kita perlihatkan stannya. Stannya berjumlah sekian terus kita cocokan dengan stan fisik yang saat ini, itu sudah sesuai,” jelas Gery. (tm/iwy)


Bagikan Artikel