Sosbudpar

Surat Terbuka Inayati Direspon, DLH Jatim Datangi PT BJB


PROBOLINGGO – Surat terbuka yang ditulis Inayati, seorang warga Kelurahan Kedungasem Kota Probolinggo tentang dampak lingkungan dari pabrik solar PT BJB, mendapat respons. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur kemarin (16/6) turun mendatangi PT BJB di Kota Probolinggo, juga menemui sejumlah warga terdekat pabrik tersebut. Mereka juga mendatangi langsung Inayati.  

Heru Margiyanto, Tata Penaatan Lingkungan pada DLH Kota Probolinggo saat dihubungi, kemarin sore membenarkan adanya kunjungan tersebut. Namun, Heri tidak ikut mendampingi karena ada kegiatan lain. Hanya kepala seksi (kasi)-nya yang ditugaskan mengikuti.  

Mengenai hasil kunjungan DLH Jatim soal polusi udara dan air dari PT BJB, Heru mengatakan belum mengetahui. Sebab, uji lab baru diketahui 14 hari atau 2 minggu kemudian. Begitu juga dengan kunjungan DLH Jatim ke warga. “Saat berkunjung ke warga, staf kami tidak diperkenankan ikut. Jadi, kami tidak tahu. Biasa, kalau pengawasan memang seperti itu,” ujarnya.

Apakah DLH Kota Probolinggo juga melakukan pengawasan terhadap PT BJB yang berlokasi di Kelurahan Sumbertaman itu? Heru menjawab DLH tetap melaksanakan pengawasan rutin. Pihaknya pernah melakukan uji lab terhadap air dan udara. Hasilnya, cukup bagus. “Di bawah baku mutu, baik air, udara dan kebauan. Sejak Covid-19 sampai sekarang,  kami belum melakukan uji lab lagi,” terangnya.

Kata Heru, uji lab untuk kualitas air dilakukan di DLH sendiri. Sedangkan uji lab untuk kualitas udara dan kebauan dilakukan di Surabaya. Sebab, uji kadar dan kualitas udara serta  kebauan milik DLH belum terakreditasi. Tetapi untuk alat uji kualitas air sudah terakreditasi dan memiliki 10 kriteria. “Jadi, uji udara dan kebauan ke Surabaya. Kalau kualitas air, cukup diuji di kami,” tambahnya.

PT BJB sendiri telah melakukan pengujian serupa. Hasilnya, kualitas udara dinyatakan di bawah ambang batas. Beberapa hari lalu, perusahaan pengolah limbah oli bekas menjadi bahan bakar solar itu juga menguji kualitas udara. “Kami belum menerima hasilnya. Kan belum sampai 2 minggu,” sambung Heru.

Menurutnya, perusahaan penyulingan olie bekas menjadi bahan bakar solar tersebut  pernah ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, setelah melakukan perbaikan yang disarankan kementrian, pabrik itu bisa buka kembali. “Dulu sempat ditutup. Karena sudah melakukan perbaikan, dibuka kembali,” jelas Heru.

Seperti diketahui, sebelumnya Innayati yang rumah tinggalnya di barat daya PT BJB, menulis surat terbuka pada 14 Juni 2020. Surat itu berisi keluhannya tentang bau pabrik PT BJB. Surat itu diunggah di facebook, ditujukan kepada Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Dalam surat itu Innayati menuliskan keluhannya tentang bau menyengat dari PT BJB yang dihirup anak-anaknya setiap hari.

Sementara, Direktur sekaligus Pemilik PT BJB Yuwi membenarkan kalau perusahaannya telah melakukan uji lab udara. Namun hasilnya masih menunggu 2 minggu. “Uji lab yang kemarin belum diketahui hasilnya,” ujarnya ke sejumlah wartawan kemarin.

Menurutnya, uji kualitas udara dan air dilakukan berkala setiap enam bulan sekali. Terkait ada warga yang mengeluh soal bau, Yuwi mengatakan itu di luar kemampuannya. Yang penting, ia telah melakukan upaya agar tidak terjadi pencemaran.

“Hasil uji lab berkala perusahaan kami, kualitas air dan udara, di bawah baku mutu. Kami ujikan ke pihak ketiga di Surabaya. Bukan kami yang menguji sendiri. Tapi perusahaan terakreditasi,” katanya.

Yuwi menyadari jika masih ada warga sekitar yang mencium bau dari produksi pabriknya. Sebab, tidak mungkin bisa menghilangkan bau 100 persen. Tetapi jika dikatakan  ada warga sekitar yang sakit karena mencium bau pabrik, menurut Yuwi hal itu berlebihan. “Pernah ada kabar seperti itu. Tetapi setelah kami konfirmasi, katanya memang punya penyakit sesak,” ujarnya.

Ditambahkan, selama ini 70 karyawannya belum pernah mengeluh sakit dan belum ada yang sakit karena mencium bau. Padahal mereka selama bekerja berada di dalam pabrik. Kalau memang semua upaya telah dilakukan, termasuk membantu warga sekitar melalui CSR masih dipermasalahkan, Yuwi meminta saran dan masukan. “Lantas apa yang seharunya kami perbuat. Kami menunggu saran dan masukannya,” tambahnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel