Sosbudpar

APTI Probolinggo Pastikan Permintaan Tembakau Turun


PROBOLINGGO – Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo menyebut permintaan gudang akan stok tembakau dari para petani setempat pada tahun ini tidak sebanyak tahun 2019 lalu. Penyebabnya adalah omzet rokok yang mengalami penurunan.

Ketua APTI setempat Mudzakir mengatakan, menurunnya omzet rokok sangat jelas berdampak terhadap permintaan tembakau di petani. Sebab, dengan berkurangnya permintaan rokok, membuat produksi yang ada di pabrik mengalami penurunan. “Sebabnya adalah omzet rokok menurun. Hal ini secara otomatis menyebabkan permintaan gudang sedikit kepada petani,” katanya.

Dengan hal tersebut, ia mengimbau kepada petani yang tidak mempunyai kebiasaan menanam tembakau untuk tidak ikut serta menanam tembakau di lahan sawahnya. Sebab, ia mengkhawatirkan, tanaman tembakau itu nantinya tidak terserap oleh permintaan gudang.

“Bagi tanah yang non-historis (tidak memiliki riwayat tanam tembakau,red), disarankan untuk tidak tanam tembakau. Kalau yang tanah yang historisnya memang tembakau saban tahunnya, silakan lanjutkan,” paparnya.

Ia juga mengatakan, berkaitan dengan adanya pandemi Covid-19 ini, gudang memutuskan untuk tidak melakukan sosialisasi terhadap petani. Sehingga, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada para petani secara terus menerus, agar para petani dapat mengetahui berkurangnya permintaan dari gudang. “Kami sebagai asosiasi berkewajiban menyampaikan statement-statement atau harapan gudang kepada petani, karena tidak ada sosialisasi sekarang,” jelasnya.

Mudzakir pun berharap, para petani bisa memaklumi permintaan gudang tersebut. Sebab adanya pandemi ini juga memberikan dampak terhadap omzet rokok. Namun, terlepas dari itu, ia menyebut para petani di Kabupaten Probolinggo sudah mengetahui caranya untuk menghasilkan tembakau dengan kualitas yang bagus. “Kalau secara keseluruhan petani tembakau Probolinggo ini sudah tahu. Sekitar 80 persen petani memproduksi tembakau yang kualitas,” paparnya.

Sementara itu, Nur Muzani, salah seorang petani tembakau di Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan mengatakan, tahun ini ia tetap menanam tembakau di lahan sawahnya yang seluas 0,4 hektar. Sebab, setiap tahunnya ia sudah rutin menanam tembakau di sawahnya itu.

“Alhamdulillah Minggu (14/6) saya sudah selesai tanam, dan sawah saya ini setiap tahunnya memang sudah biasa ditanami tembakau setelah 2 kali ditanami padi,” katanya. (ay/awi)


Bagikan Artikel