Sosbudpar

Meski Buka, Terminal Banyuangga Probolinggo Tetap Sepi


PROBOLINGGO –  Terminal bus Bayuangga Kota Probolinggo sudah dibuka kembali sejak Senin (8/6). Namun, kondisinya masih tetap sepi. Terhitung hingga kemarin (9/6) pukul 12.00, jumlah penumpang bus patas maupun bomel (ekonomi) sebanyak 28 orang saja. Sedang bus yang beroperasi ada 15 unit.

Hal itu diungkap Galih Sarlandi selaku staf bagian administrasi pada Terminal Bayuangga. Menurutnya, kemarin merupakan hari kedua dibukanya terminal. Pembukaannya didasarkan surat dari Dishub Provinsi Jawa Timur per 8 Juni 2020.

Surat tersebut berisi tentang berakhirnya larangan beroperasinya bus AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi). Saat ini tinggal menunggu surat pemberitahuan lanjutan, tentang pembukaan terminal secara resmi. “Itu surat tentang berakhirnya larangan bus AKDP. Soal pembukaan terminal secara resmi, kami masih menunggu surat berikutnya,” kata Galih. 

Pihaknya tidak melarang bus beroperasi meski belum dibuka secara resmi. Menurutnya, terminal bus Bungurasih atau Purabaya Sidoarjo dan Terminal Arjosari Malang serta Tawangalun Jember juga mulai buka Senin. “Ya, kami ikut mereka. Surabaya, Malang dan Jember, saya tanya, sudah buka,” ujarnya.

Selama dua hari terminal buka, bus yang beroperasi masih AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi). Sedangkan bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) masih belum ada. Terminal masih menunggu surat dari Dishub Provinsi Jatim untuk AKAP. “Kalau kami sudah menerima suratnya, ya kami izinkan bus AKAP beroperasi. Selama belum ada surat, kami tidak berani mengizinkan,” tambahnya.

Pihak terminal, lanjut Galih, menerapkan protokol kesehatan kepada penumpang dan kru bus. Yakni, harus memakai masker, menjaga jarak dan cuci tangan sebelum masuk bus. Selain itu, di terminal sudah disediakan tempat cuci dan sarana prasarana pelengkapnya. Pihak bus diwajibkan menyediakan hand sanitizer. “Kalau tidak menyediakan, ya kami tunda pemberangkatannya,” sambungnya.

Terkait kenaikan tarif bus Patas dari Probolinggo ke Malang dan Surabaya dari Rp 35 ribu menjadi Rp 50 ribu, Galih mengaku sudah mendengar. Hanya, ia tidak bisa menindak bus Patas yang menaikkan tarifnya tersebut. “Tidak masalah, karena tarif Patas tidak menerapkan ongkos tertinggi dan terendah. Jadi tarif tergantung situasi dan kondisi,” sambungnya.

Apalagi, lanjutnya, penumpang saat ini masih sepi. Bisa saja bus patas hanya mengangkut tidak lebih dari lima penumpang. Jika itu yang terjadi, maka bus akan merugi karena uang yang didapat tidak sebanding dengan biaya membeli solar. “Kalau tarifnya tetap Rp 35 ribu, maka banyak bus yang tidak berangkat. Balik ke garasinya. Ya, karena rugi,” ujarnya.

Sedangkan untuk bus bomel atau ekonomi, tidak boleh menaikkan tarif. Jika ada kenaikan, akan diberi peringatan. Selama ini Galih mengaku tidak mendengar ada kru bus ekonomi yang menaikkan tarif. “Harus ada laporan. Kalau tidak ada penumpang yang lapor, kami tidak tahu. Kan kalau ada yang lapor, kami tahu data bus-nya,” jelas Galih. (gus/iwy)


Bagikan Artikel