Sosbudpar

Pasca Lebaran dan Tradisi Warga Jual Perhiasan


PROBOLINGGO – Beberapa tradisi Idul Fitri berasa hilang di masa pandemi Covid-19. Namun, tetap ada yang tidak hilang. Salah satunya adalah tradisi belanja perhiasan emas sebelum lebaran, dan menjualnya kembali setelah lebaran. 

Idul Fitri 1441 Hijriyah sudah berlalu. Walau kemeriahan lebaran ini hilang oleh pandemi corona, tetap ada beberapa tradisi yang masih bertahan. Salah satunya ialah menggunakan perhiasan emas baru saat lebaran.

Sebelum lebaran, banyak orang membeli perhiasan emas baru. Memang sengaja untuk dipakai di hari lebaran. Lalu setelah lebaran, perhiasan emas itu dijual kembali. Nah, pemandangan ramai orang menjual perhiasannya kembali di toko emas, terlihat sekitar sepekan terakhir. Salah satunya di toko emas di Pasar Banyuanyar.  

Fariha (45), ibu dua anak asal Desa Tarokan, Kecamatan Banyuanyar, saat ditemui   Koran Pantura kemarin (3/6) mengaku sengaja datang ke toko emas karena terpaksa. Pasalnya dirinya sudah benar-benar kepepet. Dia sudah tidak lagi memiliki persediaan uang tunai di dompetnya maupun di tabungannya. “Tak endik pesse pole lah mas (Tidak punya uang lagi sudah mas),” katanya.

Dalam kondisi begini, Fariha mengaku terpaksa melucuti dan menjual perhiasan emasnya. Ada anting dan gelang seberat total 5 gram yang dia jual di toko emas. Padahal, perhiasan emas tersebut baru dua pekan lalu dia beli di toko yang sama.

Dari hasil penjualan kedua perhiasan emas tersebut Fariha mendapatkan uang sekitar Rp 4.250.000. Jumlah tersebut telah dipotong untuk biaya beli kembali senilai Rp 50 ribu. “Melleh larang, juellah mode. Dek iyeh lah mon mellean emas (Beli mahal, jual murah. Beginilah kalau beli emas),” ujarnya sambil menghitung uang hasil penjualan perhiasan emasnya.

Disebutkan bahwa pada sat membeli kedua perhiasan emas tersebut dirinya harus merogoh kocek sekitar Rp 4.500.000. Harga tersebut terbilang tinggi lantaran harga emas per gramnya saat itu tengah tinggi-tingginya. Kebetulan momennya bertepatan dengan jelang lebaran dan juga penyebaran pandemi Covid-19. Sehingga membuat harga emas dunia melambung tinggi diatas harga biasanya dikisaran 850.000 ribu per gramnya.

Selain Fariha, ada pula Hamidah (50), seorang warga Desa Klenang Lor, Kecamatan Banyuanyar. Hamidah sengaja menjual perhiasan emas berupa cincin seberas 1,2 gram milik cucunya yang berumur 10 tahun. Uangnya akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama sang cucu.

Kata Hamidah, orang tua cucunya itu sedang berada di luar kota dan tidak bisa mudik akibat aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Surabaya. “Disuruh jual sama orang tuanya, buat beli kebutuhan di rumah. Mau bagaiamana lagi? Penghasilan tidak ada. Bantuan sosial, apalagi…” keluhnya.

Alhasil dari penjualan cincin milik cucunya itu, Hamidah berhasil mengantongi uang senilai sekitar Rp 495.000. Uangnya memang tidak banyak, karena perhiasan cincin tersebut bukan emas murni melainkan emas campuran.yang harganya juga relatif lebih murah dibanding emas murni 24 karat. “Tidak apa-apa, memang bukan emas murni. Yang penting uangnya cukup buat makan seminggu kedepan,” sebutnya.

Zuhria, seorang pegawai toko emas di Pasar Banyuanyar itu mengakui tokonya ramai  sepekan terakhir. Paling banyak adalah para ibu yang hendak menjual kembali perhiasan emasnya. Tetapi toko ini hanya bersedia membeli perhiasan emas yang dilengkapi dengan surat/nota pembelian dari tokonya. “Biasanya memang begini. Setiap sebelum dan sesudah lebaran selalu ramai ibu-ibu. Mereka beli perhiasan sebelum lebaran dan menjualnya setelah lebaran. Alhamdulillah keuntungannya pun lumayan,” katanya.

Menurut Zuhria, keuntungan dari penjualan dan pembelian emas tiap harinya di masa sebelum dan sesudah lebaran bisa mencapai jutaan rupiah. Hal tersebut dihitung berdasarkan jumlah transaksi jual dan beli emas, serta berapa banyak bobot emas yang diperjualbelikan.

“Kalau soal keuntungan, itu relatif. Tergantung berapa banyak transaksi dan bobot emas yang diperdagangkan. Tetapi untuk toko emas kecil sekelas kami, dapat 10 jutaan keuntungan bersihnya sudah besar sekali,” katanya.

Dan menurut Zuhria, selama masa pandemi Covid-19, omset penjualan di tokonya turun drastic. Sebab, banyak orang yang sumber penghasilannya terhenti. Alhasil lebih banyak lagi pelanggan yang menjual kembali perhiasan emasnya.

“Saat ini stok perhiasannya banyak, tetapi yang beli sepi. Tapi Alhamdulillah pas lebaran kemarin masih ada saja yang beli. Apalagi setelah ada bansos cair, biasanya sebagian uangnya dibelikan perhiasan emas,” kata Zuhria.  (iwy)


Bagikan Artikel