Sosbudpar

Mas Zulmi Jalan Kaki 400 Meter Antar Bantuan Kompor


LUMBANG – Jenis bantuan yang disalurkan oleh Direktur PT Eksekutif H. Zulmi Noor Hasani, bukan hanya berupa bahan pokok. Putra dari H. Hasan Aminuddin ini juga menyantuni warga tidak mampu dengan bantuan berwujud lain. Salah satunya adalah kompor, serta kasur berikut dipannya.

Dua barang itu diantarkan sendiri oleh Mas Zulmi, sapaan karibnya, ke rumah sasaran, Selasa (19/5). Ia mengajak serta jajaran pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kabupaten Probolinggo. Ada pula Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo Yahyadi yang juga menyiapkan bantuan berupa uang tunai dari kantong pribadi.

Rumah yang dimaksud adalah milik Subur, warga Desa/Kecamatan Lumbang. Subur dan istrinya sama-sama penyandang disabilitas. Orang tua dari Regina dan Riski yang masih duduk di bangku SD dan PAUD ini tergolong warga tidak mampu. Keluarga Subur tinggal di sebuah rumah hasil program bedah rumah yang digarap sekian tahun lalu. Kini rumah mereka sudah kembali reot. Sudah tidak layak dihuni.

Subur sendiri bekerja sebagai tukang tambal ban motor panggilan. Ia tidak punya kios untuk membuka usaha secara mandiri. Jika ada panggilan, ia segera mendatangi si penelpon yang ingin ditambal ban motornya.

“Saya dikabari Pak Purnomo (Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo, red) kalau ada warga tidak mampu yang perlu disantuni di Kecamatan Lumbang. Pak Purnomo cerita begini dan begitu soal keluarga ini,” terang Mas Zulmi.

Setelah berkoordinasi seperlunya dengan PGRI, Mas Zulmi dan PGRI memutuskan untuk membeli kasur berikut dipan serta sebuah kompor siap pakai. Tabung elpijinya juga ada.

“Hasil diskusi kami, yang sangat dibutuhkan adalah tempat tidur dan kompor,” kata Mas Zulmi.

Rombongan Mas Zulmi dan rombongan PGRI tak bisa menuju rumah Subur dengan mobil. Mobil harus diparkir di tepi jalan karena jalannya setapak, sempit, dan sulit dijangkau. Rombongan harus berjalan kaki menuju rumah Subur dengan membawa kompor dan tempat tidur yang akan diserahkan. Jarak dari titik parkir menuju rumah Subur lumayan jauh. Sekitar 400 meter. Jalannya naik turun. Becek pula.

Rombongan ini dipandu oleh Eka Norma, seorang guru SD Negeri di Kecamatan Lumbang yang merupakan guru dari Regina.

“Ibu Eka Norma ini yang awalnya menginformasikan kondisi keluarga Bapak Subur kepada PGRI. Ibu Eka prihatin karena ada wali murid yang kondisi ekonominya perlu diperhatikan warga lain,” terang Mas Zulmi.

Begitu tiba dan tahu kondisi rumah Subur, Mas Zulmi makin mantap. Ia yakin bahwa keluarga ini memang layak menerima bantuan. Bukan hanya bahan pokok. Tapi lebih dari itu.

“Saya lihat sendiri kondisinya. Keluarga ini perlu mendapat perhatian dari warga lain yang punya rezeki lebih,” ungkap Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Probolingo ini usai menyerahkan bantuan kepada keluarga Subur.

Ketika rombongan sedang berada di dalam rumah, Eka Norma juga ikut mendampingi. Ia lantas menceritakan awal mula ia bertemu dengan keluarga Subur. Sebelumnya, Eka bertugas mengajar di Desa Branggah, Kecamatan Lumbang. Namun sejak beberapa waktu lalu ia ditugaskan di Desa Lumbang.

Suatu ketika, Regina, anak dari Subur yang bersekolah di tempat Eka Norma mengajar, harus mengerjakan tugas. Sejak pandemi Covid-19, Regina sudah tidak lagi belajar di sekolah, seperti halnya pelajar lain di sebagian besar wilayah Indonesia. Mestinya, pembelajaran bisa dilakukan secara online. Namun opsi ini tak bisa diterapkan untuk banyak pelajar. Termasuk Regina.

“Tidak bisa saya hubungi. Akhirnya saya minta antar ke seorang wali murid. Sampai di sini saya kaget. Saya tanya, ini tidurnya di mana. Ternyata di sini,” kata Eka dengan jari telunjuk kanan mengarah ke karpet plastik warna merah yang digelar di atas lantai tanah rumah Subur.

Terdengar jelas suara Eka Norma mulai bergetar. Air matanya mulai mengalir. Sembari menyeka air matanya yang mulai bercucuran, Eka berusaha tegar dan tetap meneruskan cerita. Mas Zulmi dan rombongan menyimak tanpa mengeluarkan suara. Suasana sempat hening sejenak.

“Saya izin ke Pak Subur. Saya foto semua bagian rumah ini. Tempat tidurnya, bangunannya. Semuanya. Pak Subur sama anak-anak ini kalau mandi di jamban di luar sana. Lalu saya share di media sosial,” ungkap Eka Norma.

Upaya yang dilakukan Eka Norma ada hasilnya. Ada beberapa temannya yang prihatin sekaligus peduli.

“Ada yang menyumbang sofa bekas. Karena rusak, ditambal sendiri oleh Ibu Subur. Alat jahit sekarang punya, dapat sumbangan juga. Saya terima kasih banyak kepada Mas Zulmi dan PGRI,” ungkapnya dengan raut wajah terharu.

Subur dan keluarganya juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dari Mas Zulmi dan rombongan lain.

“Terima kasih, Mas Zulmi,” kata Regina dan Riski bersamaan. Sementara ayah dan ibunya tersenyum penuh arti. (eem)


Bagikan Artikel