Sosbudpar

Diliburkan demi Cegah Penularan Virus Corona, eh Malah Jalan-Jalan


KRAKSAAN – Terbitnya Surat Edaran Bupati Probolinggo Nomor 420/1497/426.101/2020 tertanggal 15 Maret 2020, tentang pembelajaran di rumah bagi pelajar PAUD hingga SMA, sejatinya agar para pelajar mengisolasi mandiri di rumah. Tujuannya agar terhindar dari virus corona. Namun realitanya, waktu libur tidak hanya dimanfaatkan untuk belajar di rumah, tetapi juga berlibur di luar rumah.

Seperti pantauan Koran Pantura di SL Park, Desa Sumberlele, Kota Kraksaan, Selasa (17/3) pagi. Terlihat ada beberapa anak-anak didampingi orang tuanya bermain di SL Park. Jumlahnya sekitar belasan yang memanfaatkan permainan papan luncur.

Kemudian datang sebuah rombongan. Dari sebuah mobil mereka keluar bersama anak-anak yang berusia antara 5-12 tahun. Mereka berpakaian rapi. Dari penampilannya, mereka selayaknya rombongan yang berkunjung ke beberapa objek wisata.

Saat Koran Pantura hendak mengambil foto, mereka berusaha menghindar dan pulang. Ada satu warga berinisial T yang masih duduk di taman SL Park bersama saudaranya dan dua anak lelaki dan perempuan. “Anak saya sekolah TK, tapi sekarang libur setengah bulan karena virus corona,” terang warga Desa Matekan, Kecamatan Besuk ini.

Dia belum begitu paham tentang maksud larangan bersekolah selama 2 pekan itu. Namun, ia berusaha memanfaatkan waktu luang itu untuk berjalan-jalan. “Ya daripada di rumah terus. Mumpung libur ya jalan-jalan naik motor,” ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi menanggapi fenomena ini. Menurutnya, tidak semua masyarakay menyadari dan paham mengenai imbauan mengisolasi diri dan menerapkan pembelajaran di rumah. “Ini tugas kita bersama, termasuk media juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat,” ucap Rozi saat dikonfirmasi sore harinya.

Pasca terbitnya SE Bupati Probolinggo Nomor 420/1497/426.101/2020 tertanggal 15 Maret 2020, tentang pembelajaran di rumah bagi pelajar PAUD hingga SMA, Dinas Pendidikan telah menerbitkan SE tentang Standar Operasi dan Prosedural (SOP). “Kita terbitkan SOP. Maka kita pastikan dari PAUD-SMA belajar di rumah dengan tema dan materi yang ditentukan oleh masing-masing lembaga pendidikan,” katanya.

Dinas Pendidikan setempat menerbitkan Surat Edaran nomor 420/1507/426.101/2020 Tentang SOP Pembelajaran di rumah (home learning). Ada 4 poin, yakni peserta didik PAUD (KB/TK/SPS/TPA) melaksanakan pembelajaran yang dilaksanakan oleh orang tua di rumah masing-masing dengan tema/materi yang diberikan satuan pendidikan.

“Yang kedua adalah peserta didik SD/SMP disamping melaksanakan pembelajaran dengan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, juga dapat memanfaatkan kelas maya yang dikembangkan oleh Pustekom dan Pusdatin Kemdikbud (http://belajar.kemdikbud.go.id), ruangguru.com dan platform pembelajaran online lainnya di bawah pantauan guru dan orang tua,” bebernya.

Kemudian poin yang ketiga adalah warga belajar PKBM/LKP melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan kelas maya yang dikembangkan oleh Direktorat Dikmas Kemdikbud (pkbmdaring.kemdikbud.go.ig).

“Dan keempat adalah pelaksanaan pembelajaran di rumah (home learning) juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berbasis web dan HP berbasis android,” tutur pria asal Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember tersebut.

Rozi menjelaskan, prosedur pelaksanaan pembelajaran berbasis web dimulai dari penyiapan sistem. Seperti guru membuat bahan ajar menggunakan aplikasi berbasis web (googLe drive, google classroom, noodle, atau model Contens Management System (CMS) lainnya.

“Bahan ajar yang dibuat oleh guru minimal memuat uraian materi dan latihan soal sesuai dengan kompetensi dasar tema atau mata pelajaran. Lalu bahan ajar yang dibuat oleh guru menyesuaikan dengan jadwal pelajaran yang ada di satuan pendidikan,” ungkapnya.

Lanjutnya, bahan ajar yang dibuat oleh guru menggunakan bahasa yang mudah dipahami peserta

didik, penugasan dalam bahan ajar maksimal 40 perse untuk SD, 50 persen untuk SMP dari alokasi waktu tatap muka.

“Tentang pelaksanaa juga dijelaskan dalam SOP ini. Di antaranya batas akhir guru mengupload bahan ajar setiap hari sesuai jadwal pelajaran adalah pukul 09.00, peserta didik mempelajari bahan ajar waktunya fleksibel pada hari itu juga, pengumpulan tugas maksimal pada hari itu juga pukul 21.00,” paparnya.

Guru wajib melakukan evaluasi hasil belajar siswa paling lambat satu hari setelah tugas dan mengumumkannya kepada peserta didik. Format hasil evaluasi minimal memuat nama dan nilai peserta didik.

“Sedangkan prosedur pembelajaran berbasis HP Android berbeda lagi. Mulai dari pembuatan grup WA kelas masing-masing, guru wajib mengirimkan materi pembelajaran dan tugas untuk kelas tersebut kepada wali kelas sesuai jadwal pelajaran,” tuturnya.

Rozi menambahkan, wali kelas wajib memposting materi dan tugas dari guru mata pelajaran ke grup WA kelasnya, sesuai jadwal pelajaran kelas tersebut. Guru menginformasikan kepada walikelas siswa yang belum mengumpulkan tugas sampai waktu yang ditentukan. “Wali kelas wajib mengingatkan untuk segera menyelesaikan tugasnya,” ucapnya.

Oleh karenanya, ia berharap SOP ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh satuan pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Belajar di rumah dinilai lebih mudah dan lebih fleksibel, maka waktu di rumah harus dimaksimalkan.

“SE Bupati itu intinya membatasi kegiatan di luar rumah agar anak-anak tidak terpapar virus Covid-19. Memang tidak harus sepanjang hari di dalam rumah, tapi orang tua harus lebih bijak dalam kondisi seperti ini,” tegasnya. (awi/iwy)

 


Bagikan Artikel