Sosbudpar

Rencana Bangun Jalur Lama Bromo 17 Kilometer  


SUKAPURA – Rencana penataan dan pembangunan infrastruktur di kawasan wisata Gunung Bromo yang pasti akan mengubah kebiasaan bertahun tahun. Tidak mudah memang, namun ini dirasa perlu, demi memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.

Pemkab Probolinggo dan Balai Besar TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)  sepakat soal penataan ini. Salah satu rencananya ialah penataan akses jalur antar destinasi. Selama ini, jeep yang biasa mengantarkan tamu melewati jalur paling mudah. Tidak ada jalan khusus untuk mengantarkan tamu di setiap destinasi, seperti ke bukit teletubies, pasir berbisik, kawah, ke Penanjakan I ataupun ke Penanjakan 2 di Seruni Point.

Dalam rencana penataan wisata Gunung Bromo yang lebih baik, sejumlah OPD yang ditunjuk Bupati untuk merampungkan data itu, langsung mensurvei lokasi. Tempat pertama yang diambil datanya yakni jalur lama yang berada di kawasan bukit teletubis. Nah, jalur ini sudah ada sejak tahun 1994 silam, namun tak digunakan. Sebab, lokasinya di sisi tebing sisi luar Gunung Bromo, sehingga membuat jalur itu semakin jauh jarak tempuhnya.

Hanya, jalur lama yang berupa makadam ini panjangnya satu kilometer. Selebihnya masih berupa tanah dan pasir. Tanahnya pun juga berbeda. Dari tanah biasa, laut pasir, hingga tanah sangat rawan selip. Maka, tim survei dipastikan semuanya menggunakan kendaraan 4wd. Jarak yang susuri dari kawasan jalan jemplang Malang hingga jalan beton di menuju penanjakan kurang lebih 17 kilometer.

            Rencananya, pada jalur yang disusuri ini akan dibangun dengan lebar 7 meter dengan sistem dari beton, hingga jalan paving yang ramah lingkungan. Jalur sepanjang 17 km itu dipercaya akan membuat wisatawan makin betah berkunjung ke Gunung Bromo. “Karena memang ketika itu diterapkan, wisatawan yang datang ke sini nggak akan selesai sehari,” jelas Kepala Resort Laut Pasir, Subur  Hari Handoyo pada Koran Pantura kemarin.

Jadi, dengan rencana seperti itu, diyakini akan berdampak pada dunia wisata di kawasan Gunung Bromo, baik itu jasa jeep, hingga hotel dan penginapan. “Ya intinya kan kita mau bagi bagi rezeki saja, ditata lebih baik,” jelasnya.

Tidak hanya soal lama kunjungan di Gunung Bromo, penaataan lingkar laut pasir itu juga secara otomatis akan ada penataan ulang untuk PKL di area parkir jeep di kawah Bromo. “Otomatis kita tarik dan ditata kembali, dengan konsep yang ramah lingkungan,” jelas Subur.

Dengan satu jalur yang dilalui ini pula kelak para petugas TNBTS bisa lebih mudah membersihkan sampah sisa pengunjung. Sebab, selama ini, dengan jalan yang tak menentu itu yang pasti menyusahkan untuk membersihkan sampah. Tak dipungkiri, sampah juga menjadi permasalahan di kawasan ini, mulai dari kawah hingga di sebaran lautan pasir. “Karena satu jalur, jadi nanti kita sisir sepanjang itu,” ujarnya.

Lalu, bagaimana nasib penyedia jeep di kawasan Bromo? Subur mengaku hal itu tak mengubah fungsi mereka untuk mengantarkan tamu. Mereka tetap beroperasi seperti biasa. Jalurnya saja yang ditata. “Mobil pribadi tetap nggak boleh masuk. Jadi sama dan tidak ada perubahan aturan soal itu,” kata Subur.

Bagaimana jika jalan ini memang benar benar dibangun di lingkar laut pasir yang menghubungkan Cemorolawang-Jemplang Malang-Penanjakan Pasuruan? Apakah sensasi naik jeep di laut pasir akan hilang?

Ini yang disayangkan oleh para pemilik jeep. Salah satu alasannya karena tak sedikit tamu yang menginginkan semi adventure atau berpetualang di kawasan pasir berbisik. Belum lagi sensasi bermain lumpur di kawasan teletubis dikala musim hujan tiba.

“Nggak asyik blas kalau sudah seperti itu. Kalau pun diatur dalam satu jalur, ya harapan kami gak usah bangun jalan, cukup jalur itu yang dilalui karena ada sensai sendiri, itu kenapa kendaraan yang turun harus 4wd,” timpal Dian, salah satu driver jeep asal Probolinggo.

Sementara, pemerhati lingkungan asal Malang, Anto, mengatakan pembangunan jalur itu sebenarnya tidak harus dilakukan di kawasan Gunung Bromo. Apalagi, yang dijual di kawasan Gunung Bromo adalah keasrian alam. “Ya tidak masalah kalau dibangun, asalkan tugu di laut pasir dan bukit teletubis dibongkar. Kan tidak bagus ada ada prasasti di laut pasir dan savana,”  jelasnya.

Ia pun meminta ke BB TNBTS selaku pengelola agar lebih mengedepankan diskusi dengan masyrakat sekitar kawasan Gunung Bromo, dan tidak ujug-ujug membangun infrastruktur apapun selain sudah ada masukan dari bawah. “Ya seperti halnya tugu. Tahu-tahu sudah ada prores pembangunan tugu. Kudune yo ada sosialisasi ke jaringan bawah,” jelasnya.

Beberapa masukan lainnya ialah agar lebih mementingkan pengelolaan wisata dibandingkan dengan mengutamakan penataan wisata yang berujung perbaikan infrasturtur. “Harus diimbangi dengan pengelolaan kawasan wisata, karena antara penataan dan pengelolaan itu harus seimbang,” timpal Agus, rekan Anto. (rul/iwy)


Bagikan Artikel