Sosbudpar

Penataan Bromo, Pemkab Bakal Ajukan Proposal ke Kementerian


PROBOLINGGO – Pertemuan antaran Balai Besar TNBTS dan Pemkab Probolinggo menunjukkan terjadinya sinergi untuk melakukan penataan pengelolaan wisata Gunung Bromo. Pertemuan itu merupakan sinkronisasi data dan rencana sebelum mengajukan proposal pada kementerian.

Bahkan, demi rencana penataan wisata Gunung Bromo agar menjadi lebih baik, sejumlah OPD yang ditunjuk Bupati, bergerak bersama TNBTS merampungkan data itu dengan langsung menyurvei lokasi, kemarin (11/3).

Tempat pertama yang diambil datanya yakni jalur lama yang berada di kawasan bukit teletubbies. Nah, jalur ini sudah ada sejak tahun 1994 silam, namun tak digunakan karena berada di sisi tebing sisi luar Gunung Bromo yang membuat jalur itu akan semakin jauh jarak tempuhnya. Hanya saja, jalur lama yang berupa jalan makadam ini panjangnya hanya satu kilometer. Selebihnya masih berupa tanah dan pasir.

Tim gabungan yang terdiri dari petugas TNBTS, Dinas Perkim, dan Dinas PUPR menulusuri jalur ini kurang lebih tiga jam perjalanan dalam penyusuran jalur baru. Permukaan tanahnya juga berbeda. Dari tanah biasa, laut pasir, hingga tanah yang sangat rawan selip. Makanya, tim survei dipastikan semuanya menggunakan kendaraan 4WD. Jarak yang disusuri dari kawasan jalan Jemplang Malang hingga jalan beton menuju Penanjakan kurang lebih 17 kilometer.

Tim ini juga sesekali harus berhenti untuk mengecek kawasan. Sebab, nantinya jalur itu tidak hanya akan dibangun jalan, tapi juga shelter dan rest area.

Dari informasi yang berhasil didapat Koran Pantura di lokasi, sedikitnya ada tiga rest area yang akan dibangun dalam rencana tersebut, yakni rest area di bukit teletubbies, rest area di kawasan akasia Cemorolawang, hingga rest area di sekitar turunan jalan Penanjakan.

Sementara, untuk di kawasan pasir berbisik nantinya akan dibangunkan shelter agar para wisatawan bisa menikmatinya untuk berswafoto di kawasan tersebut. Nah, jalur yang disusuri ini akan dibangun dengan lebar 7 meter dengan sistem dari beton hingga jalan paving yang ramah lingkungan.

Jalur ini pula yang akan digunakan para penyedia jeep untuk mengantarkan tamu ke Gunung Bromo. “Makanya ini survei dulu. Berapa estimasi pembiyaannya, nanti akan dihitung oleh tim Pemkab Probolinggo sebelum nanti dimasukan ke proposal pengajuan kepada kementerian,” jelas Kepala TU BB TNBTS Novita.

Perempuan yang juga ditunjuk Plh BB TNBTS ini mengatakan, sebenarnya pihaknya terbuka kepada siapapun untuk penataan dan pengelolaan wisata. Baik itu pemerintah daerah ataupun lembaga lainnya. “Kebetulan, dari kawasan yang dibangun masuk Probolinggo, dan Pemkab Probolinggo juga ada rencana yang sama, jadi kita buat tim bersama untuk mengkaji kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur dan penataan lainnya,” katanya.

Jika tim kajian ini rampung, nantinya akan diajukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Dirjen KSDA sebagai penguat. “Nah dari sana, nantinya akan kembali diajukan pada Kementerian BUMN,” jelasnya.

Kementerian BUMN dipilih karena pembisyaan untuk penataaan dan pembangunan infrastruktur di kawasan Gunung Bromo termasuk pembangunan jalan akan menggunakan dana CSR. “Nah dari dana CSR ini yang bisa dilakukan, termasuk pembiayaan pembangunan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Disporapabud Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto mengatakan, tidak ada target untuk merampungkan penyusunan proposal pengajuan pada Kementerian BUMN ini. “Tetapi namanya pemohon, kami berusaha agar cepat selesai. Ya biar segera bisa digarap,” katanya.

Jika proposal itu di-ACC oleh kementerian terkait, bukan tidak mungkin tahun ini bisa dilakukan pembangunan. “Tapi kami menunggu ACC dulu. Yang pasti, optimis proposal pengajuan penataaan pengelolaan wisata Gunung Bromo bakal terjwyujud,” jelasnya.

Tidak hanya jalur wisata Gunung Bromo yang akan ditata ulang, tetapi juga beberapa infrastruktur juga menjadi point pengajuan untuk perbaikan termasuk tangga ke kawah bromo. (rul/iwy/bersambung)


Bagikan Artikel