Sosbudpar

Bupati Tantri Dukung Bromo Bebas Polusi


SUKAPURA – Diberlakukannya Car Free Month (CFM) sejak 24 Januari lalu, nyaris tak ada aktifitas kendaraan bermotor, baik Jeep maupun sepeda motor yang melintasi kawasan lautan pasir Bromo. Alhasil, kualitas udara di kawasan Bromo menjadi bebas polusi dan jauh dari kebisingan dari kendaraan yang biasanya lalu lalang.

Car free month yang baru pertama kali digelar ini membawa pengalaman baru bagi para wisatawan Bromo yang tidak akan merasakan distraksi apapun selama liburannya di sini. Tidak perlu lagi naik jeep dan sepeda motor, karena efek jangka panjangnya justru dapat merusak kawasan konservasi ini,” kata Bupati Probolinggo P Tantriana Sari, Minggu (23/2).

Dijelaskannya, justru pengalaman yang berbeda akan dialami oleh para wisatawan yang berkunjung ke Bromo selama masa CFM ini. Yakni menikmati keindahan Bromo dengan menggunakan jasa sewa kuda atau dengan berjalan kaki. “Moda transportasi yang ramah lingkungan tetap boleh beroperasi di CFM, misalnya jasa sewa kuda dan tentu saja dengan berjalan kaki,” jelasnya.

Namun demikian, kata Bupati Tantri, adanya CFM ini bukan untuk mematikan lini usaha wisata lainnya, seperti sewa Jeep dan sepeda motor. Karena untuk alasan konservasi dan pelestarian alam untuk jangka panjang, maka objek wisata Bromo yang selama ini terus dieksploitasi itu harus diliburkan selama beberapa waktu.

“Terlebih CFM saat ini bertepatan dengan Wulan Kepitu. Dimana Wulan Kepitu ini merupakan bulan sakral dan suci bagi umat Hindu suku Tengger,” katanya.

Lagipula, tegas Bupati 2 periode ini, CFM bisa dijadikan pemicu untuk memberikan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan. Yakni mengunjungi Bromo tanpa harus terganggu dengan kebisingan dan aktifitas kendaraan bermotor yang berlalu lalang.

“Suasana objek wisata yang hening, asri, dan bebas polusi adalah incaran wisatawan dari kota besar. Ini sebuah kesempatan dan peluang dengan adanya CFM ini. Tidak menutup kemungkinan akan ada CFM lagi di lain waktu, akan kami kaji lebih dahulu tentunya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mendukung penuh adanya CFM. Karena selama kurun waktu sebulan ini, disebutnya warga Suku Tengger dapat menggelar Wulan Kepitu secara khidmat dan lancar. Pada bulan itu pula, para sesepuh dan tokoh masyarakat suku Tengger melakukan puasa untuk mendekatkan diri pada sang pencipta.

“Untuk tahun depan kami berharap tetap dilaksanakan. Untuk wisata juga tetap bisa berjalan seperti biasa. Pro kontra itu biasa, karena masih awal dan ini perlu evaluasi. Alam ini perlu diistirahatkan selama sebulan, leluhur perlu istirahat,” pungkasnya. (tm/awi)


Bagikan Artikel