Sosbudpar

Air Kali Banger Tercemar Berat

PROBOLINGGO – Kali Banger yang memiliki nilai sejarah di Kota Probolinggo kondisinya sudah tercemar berat. Ini didasarkan pada hasil penelitian yang kemarin dilakukan oleh kelompok pelajar dari SMKN 2 Kota Probolinggo.

Kondisi Kali Banger di Kota Probolinggo saat ini disebutkan tercemar berat. Biota yang bertahan hidup di sungai bersejarah ini hanya sejenis siput) dan cacing. Dari sekian jenis cacing, hanya dua jenis yang hidup di Kali Banger, yaitu cacing hitam dan merah. Populasinya 190 untuk cacing merah, dan hanya 12 ekor cacing hitam pada area 10 meter persegi yang diteliti.

Begitulah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan tim pelajar dari SMKN 2 Kota Probolinggo di Kali Banger, kemarin (19/2). Para pelajar ini melakukan penelitian dalam rangka lomba rutin Diksun Mama (Detektif Kecil Sungai Memantau Bersama) yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo. 

Guru SMKN 2 Sri Kuswariningrum mengatakan, tim Diksun Mama dari sekolahnya dalam lomba ini memilih meneliti Kali Banger. Lombanya berlangsung dari 14 Februari sampai    21 Februari. SMKN 2 kebagian tanggal 19 Februari. “Kami bawa 5 siswa untuk mengikuti lomba ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi penelitian di Kali Banger, kemarin.

Sri menuturkan, yang diteliti adalah biota yang masih ada di sungai. Area yang diteliti ialah Kali Banger di RT 1 – RW2 Kelurahan Mangunharjo. Hasilnya, tim SMKN 2  hanya menemunkan biota sungai berupa cung-cung (sejenis siput) dan cacing. Kedua biota tersebut masih bisa hidup di air Kali Banger yang tercemar.           Sedangkan biota sungai yang lain sudah tidak ditemukan, apalagi ikan.

Menurut Sri, biota lain maupun ikan tidak bertahan hidup, karena air Kali Banger di lokasi lomba sudah tercemar berat. Penyebabnya, air Kali Banger banyak dibuangi limbah domestik dan perusahaan. “Kan dialiran sungai ini sisi selatan ada pabrik tahu. Air rumah tangga yang dibuang ke kali, juga mencemari,” sebutnya.

Dengan lomba ini, para pelajar tidak hanya mendapat pengetahuan soal biota atau habitat sungai. Mereka juga juga bisa belajar tentang sejarah Kali Banger. Menurut Sri, kaum pelajar milenial banyak yang tidak tahu letak dan asal-usul Kali Banger. Padahal, kali yang membelah jantung Kota Probolinggo dari utara ke selatan itu dulu menjadi nama daerah Banger sebelum diganti menjadi Probolinggo. 

Sri menyatakan, Kali Banger merupakan sungai yang bersejarah. Dari daerah yang berpusat di Banger inilah masyarakat Kota Probolinggo berkembang. “Anak-anak harus tahu itu. Makanya, mereka perlu dikenalkan dan diajak ke sini. Sementara saat ini anak-anak hanya tahu namanya saja, Kali Banger,” ucapnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan