Sosbudpar

Berharap Mahasiswa Ikut Beri Perlindungan Anak


KRAKSAAN – Kasus-kasus tindak asusila di Kabupaten Probolinggo masih terus terjadi. Korbannya kebanyakan anak di bawah umur. Sedangkan pelakunya banyak yang merupakan orang dekat korban. Maraknya kasus asusila ini kemarin (20/1) diangkat sebagai topik diskusi di Inzah Genggong.

Maraknya kasus asusila yang terjadi di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu terakhir, mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Bukan hanya dari tokoh agama, maupun pihak kepolisian sebagai penegak hukum. Kalangan mahasiswa syariah juga memberikan perhatian khusus terhadap fenomena yang memprihatinkan ini. 

Sebagai wujud atensi tersebut, kemarin mahasiswa syariah Institut Keislaman Zainul Hasan (Inzah) Genggong menggelar acara Ngobrol Pintar (Ngopi) dengan tema “Bahaya Publikasi Kasus Asusila.” Kegiatan itu dilangsungkan di aula KH Hasan Saifurrijal, kampus Inzah Genggong.

Pada acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 tersebut ada 3 pemateri yang dihadirkan. Mereka adalah Najwa Nada, seorang Psikolog dari Surabaya; Dr. HM Shulton, dosen Hukum Islam; dan wartawan Koran Pantura Abdul Jalil yang kerap meliput kasus-kasus asusila yang ditangani Polres Probolinggo.

Rizki Rahmatullah selaku ketua Steering Comittee (SC) acara Ngobrol Pintar tersebut mengatakan, kasus asusila yang ada di Probolinggo belakangan sudah sangat memprihatinkan. Apalagi, di beberapa kasus yang terjadi, antara pelaku dan korban masih memiliki hubungan darah ataupun orang dekat.

            “Yang marak terjadi, korbannya itu anaknya sendiri. Entah itu anak tiri, bahkan anak kandung. Bahkan, beberapa hari yang lalu ada guru yang melakukannya ke murid. Ini kan wujud kebobrokan moral,” katanya.

Dengan adanya acara tersebut, ia berharap perlindungan kepada anak bukan hanya dilakukan oleh pihak keluarga dekat dan pihak kepolisian. Namun, ia berharap, mahasiswa juga mampu memberikan perlindungan kepada anak yang berada di lingkungan sekitarnya masing-masing.

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah Umar Faruq Tohir mengatakan, acara Ngopi Pintar ini baru kali pertama digelar oleh mahasiswanya. Tidak menutup kemungkinan acara serupa akan kembali digelar secara berkesinambungan, agar perlindungan terhadap anak semakin terjaga.

“Ada 3 narasumber yang disiplinnya berbeda. Semoga itu bisa menjadi bekal, terutama untuk mahasiswa baru. Inshaallah, ada kelanjutan pada acara ini agar pemahaman mahasiswa tentang kasus-kasus asusila semakin mapan. Mungkin narasumber selanjutnya yang akan kami hadirkan salah satunya dari pihak Polres Probolinggo,” paparnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel