Sosbudpar

Bershalawat dan Tawassul, Terselamatkan dari Longsor

TIRIS – Ada cerita-cerita yang menarik disimak di balik bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo pada Senin (10/12) lalu. Sekilas sulit dipercaya. Tetapi, memang terjadi.

Artomo merupakan salah satu warga Desa Andungbiru yang ikut menjadi korban dalam bencana banjir dan tanah longsor di desanya, Senin (10/12) malam lalu. Kios bensin milik pria berusia 35 tahun itu ludes diterjang banjir bandang.

Karena kejadian itu, kotak berisi uang Rp 600 ribu milik Artomo amblas. Selain itu, ada dua jirigen berisi bensin dan 80 botol yang juga berisi bensin, ikut terseret arus banjir. Lalu sebagian dinding rumahnya rusak tergerus air.

Nah, Artomo bercerita, satu yang utuh yaitu kalender dari Ponpes Zainul Hasan Genggong. Pada kalender itu ada foto almarhum KH Moh Hasan Sepuh.”Semua habis kecuali satu, ya hanya kalender Kiai Sepuh yang terpajang di dinding ini,” kisah Artomo kepada Koran Pantura, kemarin (19/12).

Artomo menunjukkan kalender Ponpes Zainul Hasan Genggong yang terdapat foto KH. Moh Hasan Sepuh. (Beny Dwi/Koran Pantura)

Artomo masih bersyukur karena bangunan kiosnya masih utuh. Sebab, tiga toko di sebelahnya tidak tersisa. Semuanya tinggal pondasinya saja. Artomo yakin dan percaya  bahwa ia mendapat barokah dari Kiai Sepuh.

Selain Artomo, ada pula kisah yang dituturkan Sulastri (42), warga Dusun Lawang Kedaton. Ia menceritakan bahwa selama ini belum pernah sungai di depan rumahnya debitnya meninggi, walaupun turun hujan deras.

Tetapi di malam bencana itu, air sungai mengalir dan meluap deras membawa cabang dan ranting pohon, kerikil, bahkan bebatuan. Kayu dan batu yang dibawa banjir itu terlihat sampai ke halaman rumah Sulastri.

Semua tetangga sebelah rumah Sulastri sama panik. Mereka sampai naik ke lantai dua musholla yang ada di sebelah rumahnya. Tetapi Sulastri memilih tetap di dalam rumahnya. Dia memilih membaca shalawat dan tawassul kepada para wali yang sangat diyakini barokahnya.

“Semua saudara saya naik ke musholla, kecuali saya sendiri. Saya hanya keluar masuk rumah, kebingungan, lalu membaca shalawat dan tawassul pada Kiai Sepuh, Kiai  Hasan Saifourridzall dan Habib Husen,” kisah Sulastri.

Sulastri memilih berdoa agar diselamatkan dari bencana. Agar rumahnya selamat,  tidak dimasuki air bah. Dan Sulastri memang terselamatkan. Sedangkan rumah saudaranya yang berada persis di samping rumah Sulastri, bagian dapurnya tergerus banjir sampai tak bersisa.

Lalu Agus Subiyanto (31), salah satu anggota tim Airlangga Adventure juga punya cerita. Ia melihat sendiri dahsyatnya arus banjir yang membawa membawa cabang-cabang pohon, bahkan bongkahan kayu, kerikil dan lumpur.

Di kantor Airlangga Adventure, banyak foto para wali. “Masihkah mau dimasuki air banjir,”  ucap Agus dalam hati saat itu. Ternyata air banjir sama sekali tidak mengganggu aset kantor dan barang-barang yang ada. “Ini berkah para wali,” kata Agus. (ben/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan