Sosbudpar

Warga Menolak Faham Syiah


SUMBERASIH – Warga Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, meminta, kelompok penganut faham syiah di desa setempat menghentikan aktivitasnya. Jika tidak, warga tak segan-segan mengusir pimpinan syiah yang berdomisili di desanya.

Sebagai langkah awal, warga memasang baliho atau banner di sejumlah lokasi strategis. Isinya, warga menolak keras faham syiah.

Ada lima baliho yang dibentangkan warga. Di antaranya di depan masjid setempat, pertigaan dan di depan rumah Hasan Fadli, yang disebut sebagai pembawa faham syiah di Desa Jangur.

Marzuki Zarkasih, salah satu warga, mengakui dirinya bersama warga telah memasang spanduk penolakan tersebut. Itu sebagai perwujudan hasil rapat bersama sebelumnya antara MWC NU, MUI, Koramil dan Kapolsek serta kecamatan (Muspika).  

“Kami khawatir kalau ini dibiarkan dan lama tinggal di sini, anak cucu kita nanti menjadi penganut fahan syiah. Kalau Pak Hasan Fadli itu sudah lama tinggal di sini, sudah tahunan. Tetapi aktivitas syiahnya baru 2 sampai 3 bulanan,” ujar Marzuki saat ditemui di kantor desa, Kamis (24/10) siang.

Menurutnya, kekhawatiran warga sangat wajar. Sebab Hasan Fadli yang memiliki usaha distributor gas elpiji, sering melakukan kegiatan. Seperti santunan anak yatim dan pemberian buku yang memang takkiyah kepada Sunnah Waljamaah. “Kalau kegiatan tahunan peringatan karbala yang diselipi santunan kepada anak yatim,” tandas pengajar di MI Islamiyah, Muneng, itu.

Marzuki berterus terang, kalau ada beberapa warga yang telah menerima buku tentang faham Syiah. Upaya tersebut dilakukan kaum syiah agar masyarakat tergtarik dengan syiah. Jika ajarannya sudah masuk, dan mereka tertarik maka akan didoktrin.

“Saya rasa, taktik seperti itu tidak hanya di sini. Saya lihat kok bukunya. Memang warga sini ada yang menerima. Memang tidak banyak warga yang diberi. Tetapi ini kan membahayakan aqidah yang sudah tertanam,” tambahnya.

Sebelum faham syiah menyebar makin luas di desanya, Marzuki meminta pemimpin syiah hengkang dari desanya. Menurutnya, warga minta kegiatan usaha Hasan Fadli sebagai distributor elpiji 3 kg juga ditutup. “Ya tidak ada target (waktu, red). Tetapi, sesegera mungkin. Khawatir emosi warga tersulut,” katanya.

Sementara, Edi, salah satu tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama setempat, membantah kalau dirinya sudah terpengaruh faham syiah. Meski dituding telah ikut kaum syiah,  ia tidak marah, apalagi memberontak. Menurutnya, tuduhan masyarakat wajar dan masuk akal. Mengingat, dirinya kenal  dan pernah bersama dengan Hasan Fadli.

Apalagi, Edi dan ketua ranting NU pernah berbicara dalam sebuah acara dengan mengatakan kalau agama Islam itu fahamnya sama. Pernyataan seperti itu oleh masyarakat ditanggapi, kalau dirinya dan ketua ranting NU, syiah. “Sudah saya jelaskan dan saya sudah meminta maaf atas pernyataan tersebut. Saya berani sumpah, meski badan saya diceraiberai, saya bukan syiah,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Saat ditanya kegiatan kaum syiah di desanya, Edi yang pernah menjabat Panwaslu Kabupaten Probolinggo itu menyatakan tidak ada kegiatan bertentangan dengan faham warga. Yang dilakukan yaitu  santunan atau pemberian sembako kepada warga. “Kalau kegiatan lain di dalam rumah Hasan Fadli, saya tidak tahu,” katanya.

Sedangkan Hasan Fadli yang dikabarkan membawa ajaran syiah di Desa Jangur, saat berusaha ditemui kemarin tidak ada di rumahnya. Hasan Fadli disebutkan sedang umroh dan keliling ke beberapa negara.

“Enggak ada. Orangnya umroh dan keliling dibeberapa negara. Enggak tahu kapan pulang. Saya ini yang jaga rumah dan gudang serta ruko Pak Hasan Fadli. Beliau sudah 9 tahun tinggal di sini. Kalau ditanya soal kegiatan di dalam, saya tidak tahu. Kan saya jaga di luar,” katanya pria penjaga toko milik Hasan Fadli itu. (gus/iwy)

 


Bagikan Artikel