Sosbudpar

Keluhkan Kotoran di Air Terjun Jaran Goyang

KRUCIL –  Pengelola wisata air terjun Jaran Goyang di Desa Guyangan Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo mengeluh. Sebab, air sungai yang mengalir ke air terjun tersebut mulai tercemar kotoran ternak.

Air sungai yang mengalir ke air terjun Jaran Goyang mulai tercemar kotoran ternak. Hal itu membuat pengelola wisata air terjun mengeluh. (Beny Dwi/Koran Pantura)

Ahmad Fauzi (27) pengelola air terjun Jaran Goyang mengatakan, akhir-akhir ini kondisi air sungai yang mengalir ke wisata air terjun mulai kotor. Airnya bahkan sudah berganti warna menjadi hijau.

Menurut Fauzi, air tercemar kotoran ternak sapi yang sengaja dibuang ke sungai. “Warnanya berubah menjadi hijau, karena bercampur dengan kotoran sapi milik peternak. Belum lagi sampah plastik sisa kemasan makanan, bahkan pampers yang sering sekali ditemukan di lokasi air terjun,” kata Fauzi kepada Koran Pantura, kemarin (18/12).

Fauzi merinci, tercemarnya air terjun biasanya terjadi  pagi dan sore hari. “Karena kondisi ini, pengunjung dilarang mandi di air terjun. Karena airnya tidak bersih,” katanya. 

Sedangkan pendamping Desa Guyangan Deny Hidayaturrohman (31) mengatakan, wisata air terjun Jaran Goyang sebenarnya baru akan dilaunching tahun depan. Tetapi saat ini sudah cukup banyak pengunjungnya. 

“Biasanya pengunjung datang di hari libur, Sabtu dan Minggu. Kondisi air tercemar di sana masih belum diketahui para pengunjung. Sebab pengunjung umumnya datang sekitar pukul 10.00, dan meninggalkan air terjun pukul 12.00. Jadi, waktu air tercemar pagi hari, mereka tidak tahu,” kata Deny.

Menurutnya, aliran sungai dari Gunung Argopuro menuju ke air terjun Jaran Goyang melewati beberapa desa yang mayoritas sebagai peternak sapi perah. Meliputi Desa Bermi, Kalianan, dan Watupanjang.  “Tercemarnya air sungai di jam tertentu,   pada waktu para peternak melakukan pembersihan kandang hewan. Itu yang menyebabkan sungai tercemar,” imbuh Deny.

Kades Guyangan Hasyim (38) membenarkan terjadinya pencemaran ini. Pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan untuk penanganannya. “Pihak desa bersama pengelola air terjun sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan. Untuk sementara masih menunggu informasi lebih lanjut,” kata Kades.

Sementara, Camat Krucil Budi Hariyanto (55) menyatakan sudah melakukan koordinasi dengan 3 desa. Terutama agar nanti para peternak di tiga desa itu tidak membuang kotoran ternaknya ke sungai.

Untuk itu, harus ada metode alternatif pembuangan kotoran ternak. Misalnya dengan cara diolah secara khusus hingga menjadi biogas. “Untuk sementara ini kami masih menunggu informasi tindak lanjut dan penanganan dari desa. Ini agar wisata di Krucil, khususnya di Desa Guyangan tidak terganggu karena human error,” kata Camat Budi. (ben/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan