Sosbudpar

10 PSK Kota Probolinggo Terjaring, 3 Positiv HIV


PROBOLINGGO – Tiga dari sepuluh PSK (Pekerja Seks Komersial) yang terjaring razia Satpol PP pada Selasa (17/9) malam, dinyatakan positif HIV. Sedangkan tujuh PSK lainnya dinyatakan negatif.

Hal itu merupakan hasil pemeriksaan yang dilakukan tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo, Rabu (18/9) siang. Pemeriksaan tersebut dilakukan di shelter milik Dinas Sosial  (Dinsos) Kota Probolinggo di Jl Mastrip.

Menurut dr Ike Yuliana dari Dinas Kesehatan Kota Probolinggo membenarkan  ada 3 PSK yang positif terjangkit virus HIV/AIDS. Tetapi dokter yang bertugas di Puskesmas  Wonoasih itu tidak menyebutkan identitas. “Kami tidak boleh menyebut nama dan asal. Hanya kami dan PSK yang bersangkutan yang tahu. Lainnya tidak boleh tahu,” tegasnya.

Ditambahkan, tiga PSK yang positif tersebut sebelum pulang sudah diberi obat. Selanjutnya, mereka diminta dan diwajibkan check-up setiap minggu di RSUD dr Moh. Saleh. Selain itu, ketiga PSK itu mendapat pembinaan dan konseling gratis dari RSUD. “Ya, mereka harus memeriksakan kesehatannya di RSUD. Kebetulan kami konselor HIV/AIDS,” tambah dokter Ike.

            Sepuluh PSK tersebut terjaring dalam operasi penyakit masyarakat (pekat) yang dilakukan Satpol PP di barat Pasar Mangunharjo dan Blok Penangan, Kebonsari Wetan,  Selasa   malam. Selain PSK, ada 6 anak jalanan (anjal), 2 pengemis dan 5 ODGJ (Orang Dengan Ganguan Jiwa) yang dijaring, kemudian dibawa ke shelter.

Operasi yang dipimpin Kasi Operasi Satpol PP Hendra Kusuma itu berhasil mengamankan 23 orang. Mereka dijaring dari tempat berbeda. Di antaranya di perempatan Pilang, Ketapang, Randupangger, Pasar Babian (Mangunharjo) dan lokalisasi ilegal Penangan (Rel Kereta Api)

Hendra menjelakan, razia dilakukan atas permintaan Dinsos bersama Dinkes. Seluruh hasil razia langsung diangkut ke shelter untuk diproses lebih lanjut. Disebutkan, razia yang dilakukan Selasa itu menyasar tempat prostitusi ilegal di rel KA, Pasar Mangunharjo,  juga  pengemis dan gelandangan. Pengamen dan anjal diamankan di sejumlah traffic light.

Imroatun Hasanah selaku Kabid Pelayanan Rehabilitasi pada Dinsos mengatakan, mereka yang terjaring razia Satpol PP itu akan dibina. Sedangkan mereka yang berkategori gelandangan, pengemis, dan ODGJ akan tinggal beberapa hari di shelter. “Kalau yang gangguan jiwa, kami pulangkan setelah sembuh,” tandasnya.

Bagi pengemis dan gelandangan yang berdomisili di wilayah Kota Probolinggo, akan diberi pelatihan sebelum dipulangkan. Sedangkan bagi yang rumah tinggalnya di luar kota, tidak mendapat pelatihan. Mereka langsung dipulangkan setelah didata dan menandatangani sutrat pernyataan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Untuk pengamen dan anjal, terutama yang di bawah umur, akan diserahkan ke orang tuanya.

Disebut Hasanah, dalam operasi tersebut petugas mengamankan 3 anak yang tengah mengamen di perempatan lampu merah. Satu orang pelajar SMP dan 2 anak, masih sekolah SD kelas 4 dan 5. “Orang tua mereka kami panggil. Ya biar tahu kalau anaknya ngamen,” katanya. 

Dalam operasi gabungan tersebut, petugas mengamankan 2 anak SD yang sedang ngamen di perempatan Randupangger. Mereka mengamen tidak membawa alat musik, tetapi cukup dengan tepuk tangan. Kepada petugas, mereka mengamen dengan dalih disuruh ibunya.   Diperoleh informasi, keduanya tidak memiliki bapak. (gus/iwy)


Bagikan Artikel