Sosbudpar

Derita Kanker Tulang, Lutut Remaja Ini Bengkak Sekepala Bayi


PROBOLINGGO – Nasib Henri Prasetyo (18) tidak seperti remaja lainnya yang bisa kuliah atau bekerja setelah lulus SMA. Anak kedua dari 4 bersaudara tersebut kini hanya bisa terbaring di ranjang karena kakinya di bagian lutut hingga betis, bengkak besar. 

Henri Prasetyo kini tidak bisa kemana-mana. Untuk bergerak saja sulit. Sebab, kaki kirinya di bagian lutut hingga betis, bengkak sampai sebesar kepala bayi. Tidak jelas apa sebenarnya penyakit yang sedang menyerang kaki Henri Prasetyo ini.

Sang ibu, Diah Ernawati (33), menyebut putra keduanya itu menderita tumor tulang. Saat Diah bersama suaminya, Ben Ban Nardiyanto (39), memeriksakan putranya ke seorang dokter, disebutkan penyakitnya adalah tumor tulang.

Tetapi saat diperiksakan di RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo, Pras –sapaan Prasetyo– disebutkan mengidap kanker tulang.

Sebelumnya, Diah tidak langsung memeriksakan putranya ke RSUD, dengan alasan  keterbatasan ekonomi. Ben Ben sudah lama tidak bekerja setelah resign dari sebuah bank. “Suami, tidak bekerja. Dulu kerja di bank, tapi sudah resign. Katanya tidak kerasan,” jelas Diah saat ditemui kemarin (29/7) di kediamannya di Jalan Wijasa Kusuma Gg Baru, Blok B nomor 05, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan.

Setelah disebut mengidap tumor tulang, Pras kemudian dibawa ke pengobatan alternatif di Paiton, Kabupaten Probolinggo. Saat proses pengobatan tradisional berjalan, salah satu rekan Diah menyarankan agar Pras diperiksakan ke RSUD.

Saran tersebut diikuti. Pras kemudian dibawa ke RSUD. “Teman saya itu minta bantuan ke Pak Wali. Anak saya dijemput ambulans ke sini. Gratis,” tandasnya.

Lalu menurutnya, Pras hanya 2 hari dirawat di RSUD. Ia memutuskan pulang paksa, karena Pras menolak diamputasi. “Katanya, anak saya kanker tulang. Harus diamputasi. Anak saya menolak dan pulang paksa,” katanya.

Sejak itu, benjolan di kaki kiri Pras bertambah besar. Kondisi mental Pras memburuk setelah mendengar vonis kanker tulang dan harus diamputasi. Karena benjolan di kakinya semakin membesar, Pras kembali lagi berobat ke pengobatan alternatif di Paiton. “Minggu lalu ke RSUD. Sejak pulang paksa, benjolan tambah membesar. Ya, sekarang kondisinya seperti itu,” tambah Diah.

Selama 2 hari di RSUD, kata Diah, anaknya tidak diapa-apakan. “Sebelumnya benjolannya kecil. Setelah dari rumah sakit (RSUD), perkembangannya cepat. Mungkin anak saya trauma dengan vonis rumah sakit,” lanjutnya.

Diah mengaku belum memiliki dana untuk pengobatan alternatif anaknya. “Kami bukan menolak dirawat di rumah sakit. Tetapi, saya dapat uang dari mana… Dan sepertinya anak saya tidak mau kakinya diamputasi,” terangnya.

Ia kemudian menceritakan, putranya baru lulus dari SMKN 2 Kota Probolinggo pada tahun ini. Suatu saat setelah bangun tidur, Pras merasakan kakinya sakit. Setelah dilihat, ada benjolan kecil. Setiap hari benjolan itu dirasa sakit dan gatal. Diah berusaha memberi obat pada benjolan di kaki Pras. Tetapi benjolan kecil tersebut tidak kunjung hilang. “Kami lalu ke pengobatan alternatif di Paiton. Tidak sembuh, tapi benjolannya berhenti atau tidak tambah besar,” ungkapnya.

Diah menyebut, saat sakit putranya tetap masuk sekolah, bahkan ikut Ujian Nasional (UN) hingga lulus. Menurutnya, Pras sekolah di SMKN 2 jurusan bangunan dan berkeinginan kuliah di jurusan tekhnik. Namun, keinginan itu kandas setelah sakit di kakinya membuatnya tidak bisa bergerak. “Rencananya mau kuliah. Ya, mau gimana lagi. Ini nasib anak saya,” pungkas Diah berserah diri.

Sedangkan Pras mengaku kakinya terkadang sakit seperti ditusuk-tusuk. Terutama saat suhu dingin dan malam hari. Saat ditanya soal makan, ia menjawab tidak ada masalah. “Saya nggak kuat, soalnya sakit. Terutama kalau malam hari. Kalau makan, saya biasa. Kayak tidak sakit. Saya tidak bisa berdiri,” tuturnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel