Sosbudpar

Kali Banger Masih Kotor

PROBOLINGGO – Kali Banger di Kota Probolinggo sebagian besar masih dalam kondisi kotor dan bau. Selain sampah rumah tangga, masih ada pula warga yang memanfaatkan Kali Banger untuk buang air besar.

Kali Banger yang mengalir di Kelurahan Mangunharjo itu sebenarnya membuat warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai tersebut merasa risi. Sebab, setiap hari mereka disuguhi pemandangan kotor dan bau sungai yang menyengat.

Seorang warga sedang melintas di jalan tepi Kali Banger Kota Probolinggo yang kondisinya cukup kotor, kemarin. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Itu salah satunya diungkapkan oleh Hj. Nur Jannah (50), warga RT 3  – RW 13 di perkampungan Sentono. Ia mengatakan, sejak lahir hingga sekarang, kondisi sungai di depan rumahnya itu sudah kotor dan bau. “Lebih parah sekarang daripada saat saya kecil,” tandas Nur Jannah, Senin (24/6) siang.  

Namun menurutnya, semasa ia masih kecil, Kali Banger tidak sekotor dan sebau sekarang. Sebab, dulu aliran Kali Banger masih deras meski kemarau. Jadi, sampah dan kotoran manusia yang dibuang  ke Kali Banger cepat terbawa arus. “Sekarang kan airnya kecil. Sedangkan rumah-rumah tambah padat,” ujarnya.

Sementara, kebiasaan warga membuang sampah dan air besar di kali, masih dipelihara. Padahal, tempat sampah sudah disediakan dan setiap hari ada yang mengambil. Menurutnya, mereka yang membuang kotoran ke sungai adalah warga yang tidak memiliki WC di rumahnya.

Mereka seenaknya BAB di sungai tanpa ada rasa malu. Lantaran kasihan, Nur kemudian membuat jamban tertutup di atas, agar warga yang BAB tidak kelihatan. Namun sayang, niat baik perempuan yang memiliki toko pracangan ini tidak diikuti kebiasaan baik. “Tiap hari malah saya yang menyiram jamban, karena kotor dan tidak disiram,” katanya.

Saat ditanya mengapa tidak dibongkar, Nur berterus terang tidak nyaman dan kasihan pada warga. Sebab, kalaupun dibongkar warga tetap saja BAB di sungai, bahkan tanpa penutup. “Ya biarkan sajja, kita yang ngalah. Kami hanya minta ke pemkot, sekali-kali sungai ini digelontor dengan air. Biar kotorannya hanyut,” pintanya.

Hal senada diungkap Abdullah (54), ketua RT 3 – RW 14. Pria yang juga menjadi petugas kebersihan Kali Banger ini membenarkan, sebagian warga sepanjang sungai itu  masih memperthankan kebiasan buruk membuang sampah dan kotorannya di sungai. “Sulit mengubah kebiasaan. Tetapi kami yakin, lambat laun mereka akan berubah,” katanya.

Terbukti, warga selatan jembatan dekat makam Bupati Probolinggo pertama Jaelelono, sudah berubah. Meski masih ada yang masih membuang sampah ke kali, namun tidak terlalu banyak. Kini, kali yang berada di selatan jembatan, bersih dan airnya lancar. Berbeda dengan utara jembatan, yang masih kotor.

“Kalau di wilayah kami, bangunan diatas kali masih ada. Tapi kalau membuang air besar di kali sepertinya sudah tidak ada. Enggak tahu kalau malam hari,” ujarnya.

Abdullah berkata begitu, karena dirinya bersama warga secara swadaya sudah membuat kamar mandi dan WC untuk umum. Ia memanfaatkan bangunan kecil yang tidak dipakai di barat sungai. Bersama warga, bangunan tersebut diperbaiki dan pembuangannya disalurkan ke komunal.

Saat ditanya mengapa Kali Banger masih kotor meski pemkot sudah menugaskan petugas kebersihan kali, Abdullah menyebut kesadaran masyarakat sebagai faktor kelemahannya.

Menurutnya, di sepanjang aliran Kali Banger ada sekitar 20 petugas kebersihan. Atas jasanya itu, petugas mendapat uang jasa meski tidak banyak. Mereka menjaga kebersihan kali di wilayahnya masing-masing. Sementara, kata Abdullah, masih banyak warga yang susah mengubah pola hidupnya. “Tetap saja mereka membuang sampah dan kotorannya di sungai,” katanya.

Tak hanya soal kebersihan, Abdullah berharap Kali Banger bersih dari bangunan semi permanen di atasnya. Sebab, selama masih ada bangunan tersebut, Kali Banger susah bisa bersih. “Saya kira, warga sini mau kalau bangunan di atas kali ditertibkan. Yang penting kan pendekatannya kepada warga,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan