Sosbudpar

Bangunan untuk Kremasi Disoal Warga


KRAKSAAN – Sejumlah warga Desa Asembakor Kota Kraksaan mempersoalkan bangunan yang didirikan tanpa kejelasan di sisi utara jalur pantura desa setempat. Sebab, bangunan itu mulanya disebutkan hendak dijadikan waralaba Indomaret. Namun belakangan beredar kabar bahwa bangunan itu mau jadi tempat kremasi mayat.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Pantura, bangunan berukuran 300 meter persegi itu sudah dibangun sejak Januari lalu. Kini pembangunannya sudah mencapai 90 persen. Sebelum pembangunan dilakukan, pihak desa mendatangi 10 warga di sekitar bangunan untuk meminta izin dan tanda tangan.

 

Dalam izin yang dimintakan pihak desa itu disampaikan bahwa gedung yang dibangun tersebut akan jadi gerai Indomaret. Jika berkenan bertandatangan, yang bersangkutan dijanjikan uang Rp 100 ribu. Tetapi sekarang warga mendengar kabar jika gedung itu hendak dijadikan tempat kremasi mayat.

 

“Waktu minta tanda tangan ke warga, bilangnya mau dibangun indomaret. Ternyata sekarang justru dibangun tempat kremasi mayat. Ini kan sudah keliru. Warga sangat tidak setuju kalau dibangun gedung seperti itu. Jangan dikasih uang Rp. 100 ribu, sejuta kami tolak,” kata Jamal (45), seorang warga setempat, kemarin (17/6).

 

Jamal menyampaikan, tanah seluas 300 meter persegi yang dibangun kremasi tersebut milik Hamid, warga setempat. Tanah itu dibeli dengan harga lebih dari Rp 1 miliar. “Kami awalnya tak curiga. Tetapi saat mau jadi, kecurigaan kami muncul. Bagaimana mungkin toko Indomaret bentuknya seperti itu. Saat kami cari tahu, ternyata mau dibuat tempat kremasi mayat,” jelasnya.

 

Setelah mendapat dukungan dari sejumlah warga, Jamal lantas melaporkan kejadian tersebut pada MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Probolinggo agar segera ditindaklanjuti. Sebab, menurutnya, itu merupakan kesalahan yang dilakukan pihak pemerintah desa. “Kalau 10 hari tidak segera dirobohkan, kami yang akan merobohkannya dengan paksa,” tegas Jamal.

 

Sedangkan Husmaniah, salah satu perangkat desa setempat, mengaku juga resah dan tak setuju akan adanya bangunan kremasi tersebut. Apalagi, jauh sebelumnya, pihak kepala desa memaparkan bangunan itu akan  dijadikan Indomaret. “Ternyata tidak, justru dibangun kremasi mayat. Warga kaget setelah tahu itu. Saya dan warga menolak itu,” tuturnya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Asembakor HM Zainullah malah menyangkal kabar yang beredar soal pembangunan Indomaret. Ia menegaskan bahwa sejak awal bangunan itu untuk kremasi mayat. “Dari awal saya sudah bilang mau dibangun tempat kremasi mayat, bukan Indomaret,” tandasnya saat dikonfirmasi kemarin.

 

Alasan dirinya mengizinkan bangunan tersebut, kata kades, sebab negara ini adalah negara hukum. Tentunya, dirinya tidak bisa menolak bilamana ada warganya non-Muslim yang membutuhkan lahan untuk kremasi. “Jadi saya rasa wajar saja. Ini kan negara Pancasila. Harus saling menghormati, meski beda agama,” jelasnya.

 

Atas polemik ini, Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin membenarkan ada laporan dari masyarakat. Menurutnya, MUI sudah memanggil beberapa pihak atas laporan itu. “Kami masih tabayyun (klarifikasi, red) untuk mendalami kabar itu,” ujar Yasin. (yek/iwy)


Bagikan Artikel