Sosbudpar

Membagikan Takjil tetapi Berkostum Tari

PROBOLINGGO – Aksi para anggota sanggar seni Padepokan 22 di Kota Probolinggo menarik perhatian warga dan pengguna Jl Soekarno-Hatta, Minggu (25/5) sore. Sekelompok remaja putri yang menjadi anggota sanggar tersebut turun jalan membagikan takjil. Yang bikin seru, dalam aksi itu para remaja putri tersebut mengenakan kostum penari. 

Kegiatan bagi-bagi takjil di bulan puasa, lumrah dilakukan komunitas dan instansi. Tetapi kemarin (25/5) sanggar seni Padepokan 22 di Kota Probolinggo juga melakukan kegiatan bagi takjil.

Aksi mereka bagi takjil terbilang unik dan belum pernah terjadi. Sebab, para remaja putri yang tergabung di sanggar seni asal Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo itu membagikan takjil dengan mengenakan kostum tari.

Walau begitu, tujuannya sama dengan kegiatan bagi takjil yang dilakukan komunitas atau instansi.  Para anggota sanggar pimpinan Ulil Fuad Athoillah tersebut, membagi-bagikan takjil di depan hypermarket Giant di Jalan Soekarno-Hatta.

Ada belasan penari yang tergabung diacara sosial tersebut. Sebelum bagi-bagi kue dan minuman dimulai, belasan remaja putri itu menampilkan tarian perpaduan (kolaborasi) nuansa Islam dengan kesenian lokal.

Menurut Ulil Fuad Athoillah (37), tarian yang dibawakan anak didiknya menggambarkan asimilasi 2 tradisi atau budaya Islam dengan budaya Kota Probolinggo. Tak hanya gerakannya, busananya lebih ke pakaian islam yang menutup aurat dan warna yang disukai masyarakat pendalungan (Kota Probolingg) yang lebih terang alias mencolok. 

Sedangkan  gerakannya tidak terlalu atraktif  dan musik yang mengiringi tarian, berlanggam Jawa. “Kami mencoba memadukan. Ini tari kreasi tradisional. Musiknya gamelan,” ujar Ulil.

Disebutkan, acara bagi-bagi takjil kepada masyarakat merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan. Setidaknya, ada limaratusan paket takjil yang diberikan gratis kepada warga dan pengguna jalan. Biayanya didapat dari iuran anggota orang tua atau wali murid yang anaknya belajar berkesenian di padepokannya.

Menurut Ulil, Padepokan 22 didirikan tahun 2007 lalu dan kini yang belajar tentang berkesenian sudah puluhan jumlahnya. Mulai dari anak SD sampai dengan mahasiswa.

Mereka belajar tentang seni tari dan seni rupa. Ada pula menulis atau mengarang dan pantomim. “Kami tak sekedar menularkan kesenian. Kami juga belajar tentang kehidupan. Ya, belajar bersama,” tambahnya.

Ulil berharap, selain untuk dirinya sendiri, muridnya kelak bisa menerapkan atau mengaplikasikan ilmu yang didapat di padepokan. Sehingga tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga berguna bagi masyarakat. “Yang terpenting aplikasinya. Jago berkesenian dan mampu mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu harapan kami,” tambah bapak dua anak itu.

Terkait kegiatan bagi takjil, Ulil tak ingin melakukan tahun ini saja, tetapi juga tahun-tahun berikutnya. Dan jumlah takjil yang diberikan juga harus bertambah. Bahkan, ia akan melibatkan seluruh muridnya yang belajar di berbagai kesenian. “Harapan kami seperti itu. Tahun depan lebih meriah dan lebih sukses,” pungkasnya.

Sementara, salah satu penari Ainiyah Ramadhani Puteri Laksono mengaku belum pernah ikut acara bagi-bagi takjil.  Meski sering tampil menari di depan khalayak ramai, tetapi ia justru deg-degan sat bagi-bagi takjil.

“Tidak seperti acara pertunjukan, acara seperti ini butuh kehati-hatian, demi keselamatan pengendara. Soalnya lokasinya di jalan raya,” tuturnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan