Sosbudpar

Bangun Ulang Klenteng Terbakar Butuh Rp 3 M


PROBOLINGGO – Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin memastikan pemerintah kota akan membantu biaya rekonstruksi atau pembangunan ulang TITD (Tempat Ibadat Tri Dharma) atau klenteng Sumber Naga yang terbakar pada Jumat (18/5) lalu. Namun, Walikota Hadi minta agar desain klenteng dipertahankan, karena bangunan itu sudah menjadi cagar budaya.

Hal itu disampaikan Walikota Hadi Zainal Abidin saat bertemu pengurus TITD Sumber Naga, Senin (20/5) siang di ruang transit kantor walikota. Walikota meminta  pihak pengurus TITD Sumber Naga agar tidak mengubah desain dan arstitektur  klenteng, jika nanti direstrukturisasi atau dibangun ulang. Sebab, klenteng berusia 154 tahun yang berlokasi di Jalan WR Supratman itu telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Kota Probolinggo.  

Lalu, meski dana restrukturasi sudah tersedia, Walikota Hadi minta agar pengurus TITD tidak terburu-buru. Rekonstruksi dan restrukturasi diminta menunggu hasil kajian dari pemkot. Nanti, hasil kajian itu yang dijadikan pedoman restrukturisasi. 

Selanjutnya, Walikota memastikan pemkot akan membantu biaya restrukturisasi klenteng. “Kewajiban kami merawat cagar budaya. Bantuan, ya pastilah,” ujar Walikota Hadi.  

Saat ditanya siapa saja yang akan terlibat atau dilibatkan dalam tim kajian, Walikota menyatkan belum sampai menetapkan tim. Tetapi dalam waktu dekat pemkot akan menunjuk orang-orangnya dan pihak klenteng yang juga akan dilibatkan.

Mereka akan bertugas mengkaji bangunan klenteng, agar restrukturasinya sesuai bentuk aslinya. “Kalau kayunya sulit. Paling tidak, bentuknya nanti tidak melenceng dari aslinya,” ujar Walikota.

Sementara, Ketua TITD Sumber Naga Adi Sutanto Saputro mengatakan, butuh biaya sekitar Rp 3 miliar untuk membangun kembali klenteng yang hangus dilalap api.  Meski mendesak, namun pihaknya akan memperhatikan saran dan permintaan walikota. Sambil menunggu restrukturasi, pihaknya tetap akan melaksanakan peribadatan. “Tempatnya di timur bangunan tengah yang terbakar,” terang Adi.

Dijelaskan, klenteng Sumber Naga selama ini bisa menampung 500-an jemaat Konghucu, Budha dan Tao. “Klenteng kami dipakai untuk peribadatan umat Budha, Khonghucu dan Tao. Kalau tahun baru imlek, acaranya dipusatkan di klenteng. Itu kan tahun barunya orang China,” tambahnya

Sedangkan mengenai dana restrukturisasi klenteng pasca terbakar, Adi Sutanto menyatakan tidak khawatir. Sebab, sudah banyak dana mengalir ke klenteng dari perorangan ataupun dari klenteng seluruh Indonesia. Ada yang nyumbang berupa uang, ada pula berbentuk bahan bangunan.

Terkait sumbangan pemkot, Adi menyatakan terima kasih kepada walikota. “Walikota dan wakil walikota kami ini sudah tidak kurang-kurang membantu kami. Beliau hadir saat klenteng terbakar, itu sudah lebih dari cukup. Itu jadi semangat bagi kami,” ujar Adi. (gus/iwy)


Bagikan Artikel