Sosbudpar

Ibadat Waisak di Halaman, Setelah Klenteng Terbakar

PROBOLINGGO – Setelah terbakar hebat pada Jumat (17/5) malam, Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) atau klenteng Sumber Naga di Kota Probolinggo masih belum pulih. Tepat di Hari Raya Waisak, Minggu (19/5), umat Budha tidak bisa melakukan peribadatan di dalam klenteng berusia 154 tahun tersebut. Umat Budha tadi malam melakukan peribadatan di halaman depan klenteng.

Berdasar pantauan Koran Pantura, kemarin pagi sejumlah umat Tri Dharma melakukan bersih-bersih di dalam klenteng. Mereka membersihkan puing-puing dan barang yang berserakan. Sedangkan di luar pagar klenteng masih terpasang pita garis polisi.

Usai bersih-bersih, pengurus TITD bertemu guna membahas masa depan klenteng ke depan. Hal tersebut disampaikan Ketua TTID Sumber Naga Adi Sutanto Saputro. Ia mengatakan belum tahu kapan perbaikan klenteng akan dimulai. Pihaknya saat ini masih akan berembuk dengan pengurus. Dimungkinkan, perbaikan dimulai usai pengurus bertemu Walikota Hadi Zainal Abidin.

Mengenai dana perbaikan atau rehabilitasi klenteng, menurut Adi, tidak ada persoalan. Ada banyak sumbangan mengalir, baik dari perseorangan maupun dari klenteng seluruh Indonesia.

Umat Budha tadi malam melakukan peribadatan di halaman depan klenteng Sumber Naga Kota Probolinggo. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Hanya, Adi enggan menyebut detail donaturnya. “Pokoknya sumbangan mengalir. Tidak hanya berupa uang, bahan bangunan seperti genteng, keramik, sudah ada yang menanggung,” kata pengusaha beras itu kemarin siang.

Tentang acara peribadatan, lagi-lagi Adi mengatakan belum bisa dilakukan di dalam klenteng. Sebab, kondisinya memang tidak memungkinkan. Menurutnya, seluruh sarana dan prasarana kebutuhan untuk Waisak sudah dipersiapkan sebelum klenteng terbakar.

Bahkan, pada 1 Juni pengurus klenteng sudah mengundang seorang bante untuk berceramah hari Waisak. “Terus terang, semuanya sudah siap. Tetapi karena situasi, ya kami tiadakan,” tandas Adi.

Selain peribadatan ditiadakan sementara, sekolah Minggu yang biasa menempati bangunan belakang bangunan utama, juga diliburkan. Hal itu disampaikan Yen Ching In, guru sekaligus pembina sekolah Minggu. “Kita sepakat untuk diliburkan dulu. Ya karena situasi dan kondisi klenteng masih seperti ini. Nanti kalau sudah bersih, sekolah masuk lagi,” terang Adi lagi.

Dijelaskan Adi, sekolah biasa digelar sore hari. Muridnya campuran dari anak-anak hingga remaja. Belajarnya tidak dibatasi kelas. Mereka membaur menjadi satu mendengarkan sang guru.

“Pelajarannya tentang ketuhanan dan adab kesopanan, cara beribadah dan lain-lain. Pelajaran yang kami berikan bukan seperti di sekolah. Dan sekolahnya hanya setiap minggu. Jadi, tidak mengganggu sekolah umum,“ papar Adi.

Sementara itu, berdasar pantauan Koran Pantura, tadi malam umat Budha Probolinggo tetap melakukan peribadatan dan doa bersama di klenteng Sumber Naga. Namun, mereka tidak melakukan peribadatan di dalam klenteng, melainkan di halaman depan klenteng. Walau begitu, peribadatan tersebut tetap berlangsung khusyuk. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan