Sosbudpar

Lansia Anti Golput dari Pajarakan, Ini Orangnya


PROBOLINGGO – Mendeklarasikan diri sebagai Golongan Putih (Golput) dalam beberapa pemilu belakangan di Indonesia memang cukup populer. Dalam diam pun, seorang warga bisa meningkatkan angka golput, dengan cara tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Terlepas dari faktor yang beragam, Aryo Sian berbeda. Dia sudah hidup 92 tahun, dan tidak sekalipun pernah Golput.

Ketika menemui Koran Pantura, Aryo sedang berbaring di sebuah ranjang berukuran sedang berada di sebuah rumah di RT 15 RW 5, Dusun Bukol, Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan. Meski sudah berusia tua, namun Aryo terlihat cukup sehat.

Saat rombongan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Probolinggo datang, Minggu (17/3), si kakek menyambutnya. Kendati hanya dengan duduk di atas ranjangnya.

Ia sudah beberapa pekan tidak bisa beraktivitas normal, karena sempat terjatuh dan kakinya terkilir. Sore itu, penyelenggara pemilu sedang mengambil sampel pemilih yang berusia di atas 90 tahun.

Pria itu lalu menyerahkan sebuah kartu berwarna biru muda. Ada beberapa tulisan di kartu tersebut. Yang menjadi sorotan penyelenggara pemilu adalah nama dan tempat tanggal lahirnya. Di sana tertulis nama Aryo Sian, lahir di Probolinggo, 1 Juli 1927.

Ketika kegiatan sampling selesai, penyelenggara pemilu melanjutkan perjalanan ke rumah warga lainnya yang sudah masuk daftar. Namun, Koran Pantura bertahan di rumah Aryo dan berbincang ringan seputar kepemiluan.

“Biarpun usia segini, indera saya masih normal. Hanya mata saja yang agak kurang awas, karena dulu pernah operasi katarak,” tutur Aryo.

Ia lupa pertama kali menuangkan hak suaranya. Yang jelas, saat pemilu pertama kali digelar, dia sudah nyoblos. “Saya gak pernah golput. Harus datang, itu sudah aturannya pemerintah,” tuturnya.

Ia menyadari banyak masyarakat lain yang memilih golput jika kontestan tidak sesuai dengan harapannya. Atau yang paling lumrah, kalau tidak ada duitnya, gak mau nyoblos.

“Saya gak mau sama dengan mereka. Saya gak mau ikut-ikutan. Dari dulu, pemerintah itu sudah memberikan pelayanan yang baik kepada saya. Datang dan mencoblos itu bentuk balas budi saya kepada pemerintah,” papar Aryo.

Dengan usianya, Aryo sudah merasakan dipimpin 7 Presiden RI. “Bahkan saat Jepang menjajah, saya masih ingat. Wong, dulu saya juga ikut baris berbaris. Malah sampai saat ini saya ingat lirik lagunya,” ucapnya ditutup dengan tarikan nafas dalam, lalu diam sejenak.

Aryo lalu menceritakan masa penjajahan Jepang yang cukup menyiksa kalangan siswa era itu. Para siswa dan anak muda akrab dengan pola kerja bakti yang disebut Kinrohoshi, dan senam yang dikenal dengan istilah Taisho.

“Waktu istirahat dari baris berbaris itu pasti disuruh nyanyi. Saya gak tahu artinya, tapi saya hafal sampai sekarang,” tutur Aryo yang kemudian menyanyikan lirik lagu khas Dai Nippon Jepang.

Yang dilantunkannya adalah lagu kebangsaan Jepang berjudul Kimigayo yang  artinya Semoga Kekuasaan Yang Mulia Berlanjut Selamanya. Lagu itu sama dengan lagu Indonesia Raya bagi bangsa Indonesia.

“Karena tahu dulu susahnya dijajah Jepang, saya gak mau berkhianat sama pemerintah. Saya gak bisa memberi apa-apa. Saya orang melarat (miskin,red). Yang bisa saya berikan hanya suara saya,” ucapnya dengan menghela nafas panjang dengan tatapan datar.

Dalam beberapa pemilu sebelumnya, Aryo biasanya diantar oleh anaknya ke TPS mengendarai sepeda motor. Namun kondisi Aryo saat ini agak berbeda dengan sebelumnya. Pasca terjatuh, dia sulit bergerak. Apakah mbah Aryo melanjutkan tren tidak pernah Golput sepanjang umurnya atau beristirahat di rumah 17 April 2019 nanti? “Saya usahakan tetap datang ke TPS April nanti,” tegasnya. (awi/eem)

Aryo Sian, menunjukkan e-KTP miliknya. Selama menjalani hidup selama 92 tahun, ia mengaku tidak pernah sekalipun golput dalam pemilu. (Deni Ahmad Wijaya/Koran Pantura)


Bagikan Artikel