Sosbudpar

Aktivitas Bromo Terus Meningkat


SUKAPURA – Sejak kemarin (17/3), aktivitas Gunung Bromo terus mengalami peningkatan. Asap yang terlontar dari kawah mencapai ketinggian 1.500 meter di atas puncak kawah. Otoritas setempat telah melarang segala aktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah. Meski demikian, statusnya masih waspada.

Kepala Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Bromo Wahyu Ardian mengatakan, meski ada peningkatan terus menerus di Gunung Bromo, namun saat ini masih berstatus waspada. “Harapan kami wisatawan tetap mematuhi larangan yang dikeluarkan. Yakni larangan memasuki kawasan 1 kilometer dari kawah Gunung Bromo,” terangnya.

“Kendati mengalami peningkatan, kami mengimbau agar masyarakat maupun wisatawan tidak panik,” imbuhnya.

Di sisi lain, berdasar data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam http://magma.vsi.esdm.go.id, disebutkan bahwa asap membubung tinggi hingga 1.500 meter di atas puncak kawah. Asap tersebut berkekuatan kuat dengan warna cokelat tebal. Ada pula abu dengan intensitas tipis-tebal yang bergerak ke arah utara, timur laut, timur, barat, dan barat laut.

Aktivitas kegempaannya juga naik dan terekam dengan amplitudo 0,5 – 8 milimeter. Sebelumnya, aktivitas tersebut dominan 1 milimeter. Namun kini naik menjadi dominan 2 milimeter. Dengan arah mata angin tersebut, guguran abu vulkanik tipis mengarah ke kawasan Penanjakan dan sejumlah desa di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Asap yang keluar dengan ketinggian tersebut membuat Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) pun menandainya dengan warga oranye. Artinya, perlu diwaspadai oleh maskapai penerbangan. Sebab perkiraan puncak awan abu vulkanik sekitar 9.693 kaki atau 3.029 meter. Debu ini terpantau sejak 13.00 UTC atau 06.00 WIB.

Meski membubung tinggi, kepulan ini tidak terpantau oleh Satelit Himawari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dalam citra satelitnya, sebaran abu vulkanik Bromo tertutup awan. Meski BMKG Wilayah III Stasiun Juanda Surabaya terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan otorita penerbangan.

“Radar kami tidak memantau itu (sebaran abu). Jadi, untuk Informasi terkait gunung api sebenarnya murni tugas dari PVMBG. Kemudian dalam hal ini, tugas BMKG hanya menyampaikan potensi-potensi dari sebaran debu abu vulkanik tersebut. Akan mengarah kemana dan lain-lain, sesuai update yang dari Darwin Australia. Sebagai bahan koordinasi, pertimbangan dan antisipasi bagi rekan-rekan penerbangan,” kata Kasi Data dan Informasi BMKG Wilayah III Stasiun Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto via ponsel, kemarin. (rul/eem)


Bagikan Artikel