Sosbudpar

Umat Hindu Tengger Khusyuk Peringati Nyepi

SUMBER – Hari raya Nyepi tahun baru Saka 1941dilaksanakan oleh umat Hindu Tengger di lereng Gunung Bromo dengan penuh khikmat, Kamis (7/3). Peringatan dilakukan kawasan Curah Kendil di Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Dari pantauan Koran Pantura, peringatan dilakukan dengan sejumlah ritual yang diikuti warga dari 4 desa. Yakni Desa Pandansari, Ledokombo, Sumberanom, dan Wonokerso. Diawali dengan pawai Ogoh-Ogoh keliling desa di setiap desa tersebut. Hal itu dilakukan sebagai salah satu wujud untuk menghilangkan sifat negatif.

“Sebelum dilakukan Tawur Agung, diarak dulu ke seluruh pelosok desa,” ujar Kepala Desa Ledokombo Ngatari, Rabu (6/3) lalu, sebelum peringatan Nyepi.

Setelah pawai, warga membakar Ogoh-Ogoh di Curah Kendil, didahului dengan pembacaan do’a. Selanjutnya, warga dari 4 desa berkumpul untuk mengikuti Tawur Agung hingga Catur Brata Penyepian.

Peringatan Nyepi mendapat pengawalan dan pengamanan dari unsur terkait. Pemerintah dan pihak keamanan menutup kawasan wisata Gunung Bromo di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Ada 100 Jagabaya atau Pecalang yang diterjunkan saat perayaan Nyepi. Selain Jagabaya yang merupakan umat Hindu, pengamanan juga melibatkan Satpol PP, TNI, dan Polri.

Para Jagabaya berasal dari 5 desa. Yakni Desa Wonokerto, Ngadas, Jetak, Wonotoro, dan Ngadisari. Jagabaya ditempatkan di lokasi-lokasi strategis di tiap desa yang menjalani Nyepi. Mereka berpatroli selama pelaksanaan Catur Brata Penyepian. “Seluruh destinasi wisata di Bromo ditutup demi kekhidmatan ibadah umat Hindu Tengger,” ujar Camat Sukapura Yulius Christian, kemarin.

Menurutnya, keberadaan Jagabaya sangat penting guna menjaga keamanan dan situasi kondusif selama Catur Brata Penyepian. Mereka bertugas menjaga dan memperingatkan warga agar tidak keluar rumah. “Serta sebagai garda terdepan jika ada keadaan darurat. Seperti orang sakit, melahirkan, atau keadaan darurat lainnya,” terang Yulius.

Ia menerangkan, skema pengamanan Nyepi dibagi menjadi dua sektor. Ring 1 merupakan sektor utama penutupan penuh, letaknya di gerbang depan balai Desa Ngadas. Sedangkan ring 2 berada di areal Masjid Wonokerto. “Seluruh tamu, yang bukan warga Wonokerto, dihentikan di ring 2 ini agar tidak sampai mengganggu pelaksanaan nyepi di Desa Ngadas atau ring 1,” ungkapnya.

Penutupan total jalur menuju Bromo via Kabupaten Probolinggo diharapkan bisa memberikan dampak positif pada umat Hindu yang merayakan Nyepi. Melalui penutupan total pada perayaan Hari Raya Nyepi ini, juga diharapkan budaya leluhur dan adat istiadat asli Suku Tengger tetap dapat terjaga kelestariannya.

“Sebab nusantara, sangat kaya akan budaya, adat istiadat maupun pesona alamnya,” kata Yulius yang merupakan mantan Kepala Bagian Kominfo Pemkab Probolinggo ini. (rul/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan