Sosbudpar

Derita Pasutri yang Tinggal di Gubuk Reot

PROBOLINGGO – Pasangan suami istri (pasutri) Sakri (70) dan Armani (66), warga Jl KH Ahmad Dahlan RT 5 – RW 16 Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, sepertinya menjalani penderitaan lengkap.

Selain tidak memiliki keturunan, pasutri itu juga harus tinggal di gubuk reot. Padahal, gubuk yang ditinggali itu juga bukan milik sendiri, melainkan milik ketua RT 5 Rasuli.

Parahnya, Armani adalah tunanetra. Di rumah kecil berukuan 4 kali 6 meter tersebut, Sakri dan Armani menghabiskan waktunya sambil menunggu belas asih warga setempat. Mengingat, mereka tidak bisa kerja karena kondisinya memang tidak memungkinkan.

Saat ditemui wartawan kemarin (7/3) siang, Sakri tengah tiduran di teras rumahnya. Saat ada tamu, Sakri bangun. Ia mengaku penglihatannya terganggu. Sedangkan Armani tengah berada di dalam rumah. Perempuan itu baru keluar setelah dipanggil suaminya.

Pasutri itu pendengarannya sudah lemah. Wartawan harus bertanya dengan volume suara keras agar terdengar keduanya.

Saat wartawan masuk ke rumahnya, kondisinya berantakan. Tidak ada air, apalagi sumur atau pompa dan kamar mandi. Bahkan, kompor atau tungku untuk memasak pun  tidak kelihatan. Tak hanya memasak, baju yang dikenakan dan kain yang berserakan terlihat tidak dicuci karena tidak ada air.

Kondisi ekonomi dan tempat tinggal seperti itu tak membuat Sakri dan Armani tidak kerasan. Sakri malah menolak saat ditawari tinggal di panti jompo. “Apa? Saya tidak mau tinggal di panti jompo,” katanya dengan nada keras.

Ia kepingin bebas, kendati untuk makan menunggu pemberian orang. Sakri sempat mengaku tidak pernah meminta-minta dan menunggu bantuan tetangga untuk makan. Ia mengaku makan dari hasil jerih payahnya bekerja. Tetapi saat ditanya bekerja apa, Sakri tidak menjawab. Dia hanya melihat dengan tatapan kosong.

Slamet Hariyanto selaku ketua RT 6 sekaligus Plt ketua RW 16 membenarkan kalau lahan yang ditempati Sakri dan Arman adalah milik Rasuli, ketua RT 5. Hanya,  rumahnya dibangun secara swadaya warga setempat 8 tahun silam.

Rumah tersebut tidak bisa direhab dengan biaya pemkot, mengingat lahannya bukan milik Sakri. “Sudah diusulkan ke program RTLH. Sudah didatangi, tapi ditolak, karena tanahnya milik pak ketua RT 5,” tandasnya.

Tak hanya pemkot yang peduli, komunitas peduli lansia juga pernah datang. Namun, niat baik untuk membawa Sakri dan istrinya ke panti jompo ditolak. Menurut Slamet, warga berharap agar keduanya dirawat di panti jompo.

Sebab, tingkah laku Sakri terkadang meresahkan warga setempat. Jika ada perempuan, baik dewasa, remaja dan anak-anak, Sakri menunjukan  kelaminya. “Kalau ada perempuan lewat, kelaminya ditunjukan,” tambahnya.

Akibat ulahnya tersebut, perempuan tidak berani melintas di depan rumah Sakri. Ditambahkan, warga buka tidak peduli dengan mereka, namun karena sikap Sakri seperti itu, warga akhirnya tidak iba.

Diceritakan oleh Slamet, Sakri tidak mau diberi nasi kalau tidak hangat. “Kalau diberi nasi dingin, dibilang nasi basi. Yang membantu kan jadi tersinggung. Sekarang makannya minta ke tetangga yang disukai. Ya, dia yang ke rumahnya,” beber Slamet.

Sementara, Kepala Dinas Sosial Zainullah menyatakan, yang bersangkutan sudah mendapat bantuan pangan dari pemerintah. Mengenai persoalan di lapangan tentang ulah Sakri, pihaknya berjanji akan segera kroscek. “Sudah dapat bantuan pangan program BPNT. Besok kita ke rumahnya dengan staf dan pihak kelurahan,” ujar Zainullah, kemarin. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan