Sosbudpar

Sayangkan Pemberitaan Media Nasional

PROBOLINGGO – Aktivitas vulkanik Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo memang mengalami peningkatan. Namun, peningkatan ini tidak sampai mengubah statusnya, yaitu tetap level II atau waspada. Nah, dalam kondisi peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Bromo ini, ada pemberitaan media nasional yang disayangkan sejumlah pihak.

Yang paling disayangkan adalah pemberitaan media televisi  nasional kemarin (20/2), karena kurang tepat. Misalnya, penyebutan adanya awan panas yang keluar dari kawah Gunung Bromo.  Padahal, kondisi di lapangan, tidak ada luncuran awan panas itu.  Kawah Gunung Bromo hanya mengeluarkan abu vulkanik. Dan itu terjadi dua hari terakhir. 

Pemberitaan yang kurang tepat itu disayangkan salah satunya oleh Henry, warga Tengger sekaligus pemilik salah satu hotel di Cemorolawang. Menurutnya, sebenarnya tidak masalah jika media memberitakan peningkatan aktivitas Gunung Bromo. Sebab, pemberitaan itu malah bisa menjadi media promosi bagi Gunung Bromo. “Tetapi kalau tidak sesuai dengan fakta, itu yang kami sayangkan,” jelas Henry, kemarin.

Sebab, pemberitaaan yang tidak sesuai fakta malah kontraproduktif bagi wisata Gunung Bromo. Tidak sedikit tamu yang mengurungkan pergi ke Gunung Bromo. “Memang dampaknya besar. Banyak tamu juga cancel datang ke Bromo,” timpal Toha, salah satu penyedia jasa jeep wisata Bromo.

Menurut pria asal Sukapura itu, pemberitaan yang tidak sesuai fakta membuat  sejumlah tamu yang awalnya hendak mengunjungi Gunung Bromo dengan rute Penanjakan-Kawah, jadi urung. “Ya kasihan sama yang punya jeep. Tetapi mau bagaimana lagi? Tamunya cancel gara-gara berita di tv,” jelasnya,

Padahal, kondisi Gunung Bromo sampai saat ini masih kondusif dan aman untuk dikunjungi. “Harapan saya ya tolong diberitakan sesuai dengan faktanya. Kalau memang terjadi erupsi, ya kita terima. Tapi kalau belum erupsi, teapi sudah ditulis erupsi, itu yang kami sayangkan,” kata Toha. (rul/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan