Sosbudpar

ANGKUT: Petani saat mengangkut hasil panen kubis untuk dijual.(Choirul Umam Masduqi/Koran Pantura)

Murah, Kubis Rp 700 per Kilo

SUKAPURA – Petani kubis di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, cemas. Penyebabnya, harga jual kubis di tingkat petani terus menurun. Saat ini harganya bahkan hanya Rp 700 per kilogram.

Saking rendahnya harga kubis, tidak ada pedagang yang kulakan kubis. Hal itu terjadi di Desa Pakel, Kedasih, dan Sariwani. Jika pedagang memaksakan diri untuk tetap kulakan, mereka akan merugi. Pasalnya, biaya ekspedisi lebih mahal dari harga jualnya.

“Bayangkan saja kalau harga Rp 700 per kilogram, sementara yang dikirim hanya 1 ton. Kalau dirupiahkan, 1 ton kulaknya Rp 700 ribu. Sedangkan ongkos kirimnya Rp 850 ribu. Kalau dijual, bukan untung yang kami dapat, tapi rugi karena ongkos kirimnya tidak tertutupi,” kata Doni, salah seorang pedagang kubis di kawasan Sukapura.

Menurut Doni, karena tak ada pedagang yang kulakan ke tingkat petani, petani pun memasrahkan kubisnya tersebut pada sopir pikap atau truk agar kubisnya dijual. “Daripada gak dapat apa apa, akhirnya petani menjual kubisnya dengan sistem bagi hasil dengan sopir pikap atau truk,” terangnya.

Dengan pola tersebut, hasil penjualan akan dipotong sejumlah klaim. Selain ongkos kirim, hasil penjualan masih dipotong upah sopir. Setelah itu dipotong sejumlah klaim, petani akan menerima uang sisa dari seluruh biaya yang sudah dikeluarkan.

“Dengan seperti itu, petani bisa mendapatkan hasil. Mungkin bisa sampai Rp 500 ribu. Memang kecil, bahkan rugi. Tapi sudah lebih baik daripada tidak dapat sama sekali,” ungkapnya.

Doni mengatakan, rendahnya harga kubis terjadi karena saat ini ada kegiatan panen raya kubis di daerah lain. Seperti di Batu dan Kabupaten Malang. “Ada juga daerah lain yang juga akan panen, Mas. Bisa-bisa harga beberapa waktu ke depan akan semakin anjlok,” terangnya.

Jika harga semakin turun, Doni menyebut kondisinya sama seperti tahun lalu. “Kalau sudah seperti tahun lalu, petani tidak akan memanen kubis. Tanamannya akan dibiarkan menjadi pupuk organik,” katanya. (rul/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan