Sosbudpar

Rayakan Tahun Baru Islam, Pelajar Probolinggo Gelar Oncoran


PROBOLINGGO – Beragam cara digelar oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk menyambut datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah yang jatuh pada Sabtu (30/7/2022). Salah satunya yakni dengan menggelar acara pawai obor atau Oncoran keliling desa.

Seperti acara pawai obor yang digelar oleh para siswa dan siswi Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Tiris dan di kecamatan Dringu, Jumat (29/7) petang. Ratusan pelajar di masing-masing wilayah itu, melaksanakan acara pawai obor keliling desa yang dimulai seusai Sholat Maghrib.

Masing-masing pelajar dengan busana muslim dan membawa Oncoran atau obor itu. Mereka antusias mengikuti acara perayaan pergantian tahun baru Islam yang ke 1444 Hijriah ini.

Adi Nur Cahyo, salah satu guru MI Tarbiyatu Hasan Kecamatan Dringu mengungkapkan, perayaan pergantian tahun baru Islam ini sangat spesial. Karena baru untuk pertama kalinya selama masa pandemi Covid-19 ini. Para pelajar diperbolehkan untuk menggelar acara secara berkerumun.

“Kalau tahun sebelumnya kan tidak bisa karena adanya larangan untuk berkerumun. Namun tahun ini seiring dengan meredanya Covid-19, pihak sekolah dan wali murid akhirnya sepakat untuk menggelar acara ini,” ungkapnya.

Menurutnya, makna atau tujuan dari tradisi Oncoran yakni untuk mempererat tali silaturahmi. Karena lewat tradisi yang telah berlangsung turun temurun ini. Banyak nilai positif yang bisa diambil, mulai dari menanamkan rasa saling gotong royong sambil bersama menebar aura positif.

“Bisa dilihat dari cara wali murid hingga siswa yang bekerja sama membuat obor dan menyiapkan segala sesuatunya untuk mempersiapkan lancarnya kegiatan pawai obor ini. Nyaris semuanya terlibat dan tujuannya sama yakni merayakan pergantian tahun baru Islam,” terangnya.

Antusiasme masyarakat untuk mengikuti momen setahun sekali ini pun sangat baik.

“Semangat tahun baru inilah yang menjadi rasa syukur karena sudah diberi kesempatan untuk hidup dengan baik di tahun sebelumnya dan harapan semoga di tahun mendatangi kehidupannya akan semakin baik,” lanjutnya.

Secara filosofis, obor juga memiliki makna. Secara teknis, awalnya obor yang dinyalakan hanya satu, kemudian untuk menyalakan obor lain yakni dengan saling mengoper api obor. Beegitu api sudah menyala semua, rasa hangat seolah memeluk erat para peserta pawai.

“Apalagi saat pawai sudah mulai berjalan, campur aduk rasa haru dan syukur pasti akan terasa. Sehingga akan memberikan kehangatan bersama diantara sesama umat muslim yang merayakannya,” terang Adi. (tm/eem)


Bagikan Artikel