Sosbudpar

Tarung Bebas, Pantang Menyerah, Kedepankan Sportifitas


PROBOLINGGO – Bela diri tarung bebas yang dilakukan oleh pendekar Pagar Nusa Komisariat Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, mewarnai Harlah Pagar Nusa ke-36, pada Minggu (2/1). Dalam kesempatan itu para pendekar menunjukkan taringnya di atas ring.

Aksi bela diri tarung bebas ini berbeda dengan laga pencak silat pada umumnya. Dalam pertarungan di atas ring ini, para pendekar tidak diperkenankan mengenakan protektor dada maupun kepala. Protektor itu hanya cukup dikenakan di bagian alat vital, karena khawatir pukulan lawan mengenai area terlarang itu.

Para petarung profesional ini diperkenankan memukul lawannya di atas ring dengan bebas, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seluruh tubuh itu boleh dihantam terkeculi bagian kelamin.

Pada pertandingan tarung bebas yang digelar oleh Pagar Nusa Komisariat Genggong ini, pendekar yang bertarung merupakan utusan dari perguruan di bawah naungan Komisariat Genggong. Mereka adalah pendekar profesional dari perguruan masing-masing.

Salah satu pertandingan dalam tarung bebas itu ialah pendekar dari Perguruan Ibnu Alwan Kota Probolinggo melawan Perguruan Gasmi Genggong. Dua pendekar daru dua perguruan ini pun mulai adu kekuatan di atas ring.

Setiap satu kali bertanding, para pendekar harus menjalani 3 kali babak. Saat itu, Pendekar Gasmi yang mengenakai pakaian merah, dan Pendekar Ibnu Alwan mengenakan pakaian hitam. Meski mereka di bawah naungan Komisariat Genggong, namun tak ada dari mereka yang segan untuk melayangkan pukulan dan tendangan.

Setelah wasit meniupkan peluit, pukulan demi pukulan saling menghantam satu sama lain. Tak jarang dari mereka yang wajahnya terkena bogem lawan. Tak heran jika wajah mereka memerah memar.

Namun, saat wasit meniupkan peluit tanda berhenti, semua gerakan spontan dihentikan seketika itu. Mereka sangat sportif. Gerakan tubuh dengan postur yang ideal menunjukkan identitas kependekaran mereka.

Meski kepala, dada, perut dan bagian tubuh lainnya terkena pukulan. Mereka tak pantang untuk angkat tangan tanda menyerah. Sementara pendekar lainnya yang menonton ikut bersorak menyemangati para pendekar yang bertarung di atas ring.

Tak heran jika dari mereka ada yang luka hingga mengelurkan darah. Sebab pukulan yang dilayangkan nampak diluncurkan sekuat tenaga. Terpenting, sportifitas harus dijunjung tinggi.

Walau di atas ring mereka saling adu jotos. Selepas pertandingan mereka nampak seperti bersaudara yang begitu dekat. Bahkan, ketika lawannya tergeletak dengan bersinbah darah. Lawan satunya ikut membantu memberikan pertolongan.

“Tetap harus respect pada lawan. Bagaimanapun kita semua saudara. Sportifitas harus tetang diutamakan,” ungkap Ainul, salah satu pelatih Gasmi Genggong.

Aksi tarung bebas di Komisariat Genggong sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Para pendekar yang ingin mengembangkan kemampuannya pun difasilitasi untuk ikut pada Tiger Bar MMA Akademi, yang diciptakan oleh pendekar profesional Genggong.

“Jika ingin berprestasi lebih. Kami fasilitasi dengan MMA Akademi Tiger Bar ini,” ungkap Gus dr. Mohammad Haris, Ketua Pagar Nusa Komisariat Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Pertarungan tarung bebas itu juga ditujukan untuk para petarung yang ingin menuangkan kemampuannya. Agar tidak berulah di jalanan dan meresahkan masyarakat.

Pria yang akrab disapa Gus Haris itu tetap selalu mengingatkan pada para pendekarnya untuk tetap menjaga akhlak dimanapun. Tunjukkan kemampuan cukup di atas ring dengan prestasi. “Pada prinsipnya, pantang menantang, tak surut bila ditantang. Itulah Pagar Nusa Genggong,” tegas Gus Haris. (yek/iwy)


Bagikan Artikel