Sosbudpar

November, 185 Pasutri Bercerai


PROBOLINGGO – Sepanjang November lalu, pengajuan perkara perceraian di Pengadilan Agama (PA) Kraksaan mencapai 208 perkara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 185 perkara telah diputus. Artinya, sebanyak 185 pasangan suami istri (pasutri) telah bercerai.

Panitera Muda Hukum PA Kraksaan Syafiudin mengatakan, dari 208 perkara tersebut, cerai gugat (CG) mencapai 136 perkara. Sedangkan cerai talak (CT) jumlahnya 72 perkara.

“Perkara CT 62 sudah kami putus. Untuk CG ada 123 perkara. Dibanding Oktober, November ini lebih sedikit. Oktober lalu, kami putus 205 perkara,” katanya Senin (6/12).

Ia menerangkan, selama setahun terakhir, faktor ekonomi merupakan penyebab utama perceraian yang ditangani pihaknya. Syafiudin menduga hal tersebut tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

“Sebelum adanya pandemi, biasanya perkara cerai yang masuk itu didominasi oleh faktor pertengkaran. Sekarang persoalannya sudah beda, ekonomi yang dominan,” ungkapnya.

Hal itu terlihat dari data putusan hakim PA Kraksaan. Dari 185 perkara yang telah diputus, sebanyak 106 pasutri bercerai karena faktor ekonomi. Selain itu, marak juga faktor perceraian yang disebabkan pertengkaran. Ada juga faktor kekerasan dalam rumah tangga hingga faktor kawin paksa.

“Ada juga 10 kasus yang disebabkan salah satu pihak tidak bertanggung jawab, dalam arti meninggalkan salah satu pihak tanpa alasan yang jelas selama berbulan-bulan,” ujarnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel