Sosbudpar

Kebelet, 133 Remaja Ajukan Dispensasi Kawin


PROBOLINGGO – Selain kasus perceraian, ada sejumlah perkara lain yang ditangani oleh Pengadilan Agama (PA) Kraksaan. Salah satunya adalah permohonan Dispensasi Kawin (DK). Dalam sebulan, perkara DK yang ditangani bisa mencapai ratusan.

Panitera Muda (Panmud) Hukum PA setempat Syafiudin mengatakan, sepanjang Oktober lalu, pihaknya menerima 133 permohonan DK. Hal ini menurutnya dapat menunjukkan bahwa pernikahan di bawah umur di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi.

“Kalau usianya belum 19 tahun, maka dianggap umurnya belum cukup untuk kawin. Makanya KUA (Kantor Urusan Agama, red) tidak akan mau menikahkan tanpa adanya Dispensasi Kawin,” katanya, Kamis (4/11).

Dari perkara yang diterimanya tersebut, 101 di antaranya sudah dikabulkan. Sedangkan sisanya masih akan disidangkan pada bulan ini. Pasalnya proses pengajuannya dilakukan menjelang berakhirnya Oktober.

“Tentu kami tidak serta-merta mengabulkan permohonan tersebut. Perkara DK ini bisa dikabulkan jika kondisi mendesak,” teragnya.

Menurutnya, kondisi mendesak ini bisa berupa tuntutan dari keluarga yang menginginkan anaknya untuk segera menikah. Tujuannya agar terhindar dari praktik perzinahan. Atau, karena terjadi hamil di luar nikah.

“Kebanyakan alasannya karena sudah sering berboncengan bareng. Jadi, orang tuanya sepakat untuk segera menikahkan agar terhindar dari perbuatan yang melanggar nilai-nilai sosial dan agama,” terangnya.

Sebelum mengabulkan permohonan DK, pihaknya juga mempertimbangkan faktor kesiapan orang tua untuk terus membimbing anaknya dalam mengarungi rumah tangga. Hal ini dilakukan agar tidak mudah terjadi perceraian, mengingat usianya dari pemohon DK masih muda.

“Orang tuanya harus siap membimbing biar tidak sering bertengkar. Karena pertengkaran ini bisa menjadi faktor perceraian,” ujarnya.

Namun Syafiudin berharap adanya DK ini jangan dijadikan alasan oleh orang tua untuk menjodohkan anaknya secara paksa. Sebab, hingga saat ini pihaknya juga masih menerima kasus perceraian yang disebabkan oleh pernikahan paksa.

“Bijaklah dalam mengawinkan anak. Yang namanya anak pasti takut kepada orang tuanya. Jangan menikah atau dinikahkan kalau belum siap. Bulan lalu saja, ada 2 kasus cerai yang kami tangani karena pernikahannya dipaksa orang tuanya,” ungkapnya. (ay/eem)


Bagikan Artikel