Sosbudpar

Biaya Umrah Membengkak, Bisa Mencapai Rp 30 Juta


PROBOLINGGO – Pemerintah Arab Saudi telah membuka pintu untuk jamaah umrah asal Indonesia. Dengan demikian, calon jamaah tak lama lagi sudah bisa menunaikan ibadah umrah. Namun, biaya perjalanan umrah di masa pandemi Covid-19 lebih mahal dari sebelumnya.

Fajar, seorang customer service di biro perjalanan haji dan umrah di Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, tingginya biaya umrah terjadi karena efek pandemi. Sebab ada biaya tambahan seperti biaya karantina hingga vaksinasi.

“Umrah untuk 9 hari sekarang Rp 30 juta. Dengan paket itu, setiap jamaah mendapatkan fasilitas hotel bintang 5. Satu kamar berdua, biasanya berempat. Di Indonesia sendiri juga masih ada karantina. Sebelum pandemi biayanya Rp 24 juta,” ungkapnya.

Menurutnya, tarif Rp 30 juta itu masih estimasi. Yakni dengan adanya tambahan biaya karantina sebelum berangkat umrah selama 3 hari. Selain itu juga ada biaya karantina setelah pulang selama 5 hari. Seandainya kebijakan pemerintah berubah, maka harga bisa berubah lagi.

“Pemberangkatan gak bisa naik pesawat dari Juanda Surabaya. Sekarang harus terpusat berangkat dari Jakarta. Untuk menekan cost (biaya), kami berangkatkan ke Jakarta naik bus,” katanya.

Meski demikian, Fajar menyambut baik dibukanya kembali ibadah umrah. Terlebih sudah setahun setengah umrah tak bisa dijalankan karena terdampak pandemi Covid-19. Pihaknya pun mengaku sudah berkoordinasi dengan Kemenag (Kementerian Agama) terkait pembukaan ibadah umrah tersebut.

Fajar mengungkapkan, pihaknya terakhir kali memberangkatkan jamaah umrah pada Maret 2020. Setelah itu, ibadah umrah mandek karena adanya pandemi. “Sekarang sudah ada satu kelompok jamaah umrah yang siap berangkat,” ungkapnya. (ra/eem)


Bagikan Artikel