Sosbudpar

Penyu Hijau Suka Singgah di Pantai Gending


PROBOLINGGO – Perairan Kabupaten Probolinggo bisa dikatakan sangat disukai satwa laut. Salah satunya yang menyukai perairan Probolinggo adalah jenis penyu. Mereka datang untuk bertelur atau mencari makan. Tak jarang di perairan dangkal pun, pancingan nelayan malah menangkap penyu. Untuk itu, penjagaan dan pengawasan laut sangat penting melibatkan masyarakat.

Beberapa waktu lalu ada pemancing yang mendapat anakan penyu hijau. Satwa dengan nama latin Chelonia mydas itu didapat kala pemancing mengasah hobinya di perairan dangkal Kabupaten Probolinggo.

            Sanemo, tokoh masyarakat Desa Pesisir, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo mengatakan kejadian ini telah berulang. Semula, kata Sanemo, pemancing itu bermaksud menjual satwa yang mampu hidup hingga ratusan tahun itu tetapi tak punya kenalan. Begitu tiba di rumah, pemancing berinisiatif menemui dirinya untuk meminta tolong dicarikan pembeli.

“Namanya nelayan. Apa saja yang didapat ya dijual. Saya juga tidak tahu kalau penyu itu dilindungi,” katanya. Saat itu Sanemo masih menjabat Kades Pesisir.

Permintaan itu ditolak Sanemo. Sebaliknya, dia memberi pemahaman kepada Samili bila satwa yang dia dapatkan itu dilindungi dan tidak boleh dijual. Sanemo pun memberi Samili uang sebagai ganti. Penyu pun lepas liar pada sekitar Agustus 2021, menunggu laut pasang.

Kemudian Sanemo menerawang ke tahun 2017. Dia menjelaskan, saat itu juga menerima laporan ada penyu tidak sengaja terperangkap oleh jaring nelayan. “Masuk ke jaring gagan (gardu penjaring ikan di tengah laut). Saat dibawa ke darat, saya berkodinasi dengan DKP dan PSKP. Ternyata itu jenis penyu hijau. Jadi saya beri pengertian nelayan agar penyu itu bisa dilepas ke laut,” kata Sanemo.

Menurutnya, penyu itu beratnya sekitar 1 kwintal. “Kami mendapat petunjuk harus dilepas di laut karena termasuk jenis yang dilindungi. Diduga (usia) belum 10 tahun. Jadi ke pinggir bukan untuk bertelur, tapi cari makan. Setelah 10 tahun baru bisa berkembang biak,” kata Sanemo lagi.

Penyu itu terperangkap di jaring gagan yang jaraknya 200 mil laut. Sanemo bersama Polsek Gending menjalankan evakuasi sesuai kordinasi dengan staf DKP dan dari PSKP.

Sanemo menjelaskan saat itu Pengawas Perikanan Satuan Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSKP) Probolinggo menyatakan, jika penyu hijau berarti dilindungi. Statusnya sangat langka, yakni masuk appendix 1 Convention on International Trade of Endangered Species (CITES).

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan Kabupaten Probolinggo Dendy Isfandi, mengatakan, selama ini perairan Probolinggo memang kerap menjadi jujugan penyu. Tak jarang, beberapa tersangkut jaring nelayan.

Tahun ini saja, dari laporan yang dia terima, tercatat tiga kali kejadian penyu tersangkut nelayan, antara lain, di Binor, Kecamatan Paiton dengan panjang 70 sentimeter, dan Pulau Gili Ketapang berat 60 kilogram. Dia sendiri sempat melepasliarkan penyu belimbing saat di Binor.

Dedy menilai, kehadiran satwa lindung itu tak lepas dari kondisi perairan Probolinggo masih baik karena minim pencemaran. Dengan begitu, plankton-plankton dan sumber pakan penyu masih banyak tersedia.

Kabupaten Probolinggo, memiliki panjang pantai sekitar 55, 3 kilometer meliputi 35 desa di tujuh kecamatan. Secara umum, kondisi pantai di puluhan desa itu relatif baik termasuk ekosistem mangrove yang masih memiliki kerapatan bagus.

Dia menyadari, laut dan wilayah pesisir merupakan ekosistem yang banyak menyimpan potensi. Karena itu, di seluruh desa di sepanjang pantai itu, telah dibentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

Salah satu tugas jejaring ini untuk mengawasi segala kegiatan atau aktivitas manusia yang berpotensi mendegradasi laut dan pesisir. Termasik, melapor ketika ada penyu atau satwa lain yang terdampar.

Selain penyu, katanya, perairan Probolinggo yang menjadi bagian dari Selat Madura kerap menjadi jalur migrasi hiu tutul.

“Tidak itu saja. Komunitas Pokmaswas ini juga bertugas mengawasi kalau ada illegal fishing. Seperti penggunaan alat tangkap trawl atau cantrang. Di wilayah kami tidak ada kan? Saya jamin itu,” kata Dedy.

Keterlibatan Pokmaswas, katanya, cukup membantu mengintensifkan pemantauan wilayah pesisir. Sebelumnya, kasus pencurian telur penyu sempat terjadi di pesisir Dringu oleh sejumlah pemancing dari luar desa Pada konteks pengawasan ini pula, katanya, kelompok masyarakat berperan.

Melalui Pokmaswas, dinas sosialisasi dan edukasi kepada para nelayan dan masyarakat pesisir ketika mendapati penyu terdampar atau bertelur, misal, segera memberi pagar aman.

Menjaga ekosistem laut memang jadi salah satu prioritas Dinas Kelautan. Namun, katanya, setelah ada Undang-undang Nomor 23/2014 tentang Pemerintah Daerah (Pemda), itu jadi tak bisa lagi dilakukan.

“Alasannya, karena merujuk UU itu, pengelolaan laut jadi kewenangan provinsi. Dulu, kami masih punya empat mil untuk pengelolaan. Sekarang, dari titik O mil sudah jadi kewenangan provinsi,” kata Dedy. Padahal, katanya, dulu hampir setiap tahun dia mengalokasikan anggaran untuk terumbu buatan. “Praktis sekarang yang bisa kita lakukan hanya di wilayah daratan. Seperti pantai dan mangrovenya,” ujarnya. (ra/iwy)


Bagikan Artikel