Sosbudpar

Masih Ada Warga Buang Sampah ke Sungai Kedunggaleng


PROBOLINGGO – Sungai Kedunggaleng merupakan salah satu sungai besar yang mengalir di kabupaten Probolinggo. Dengan panjang 38 kilometer dan lebar 35 meter, Sungai Kedunggaleng meluap hingga berbuntut banjir besar di Dringu, awal tahun lalu.  

Sejak akhir Februari hingga pertengahan Maret lalu, Sungai Kedunggaleng sudah 4 kali meluap dan menyebabkan bencana banjir terparah sepanjang 2 dekade di Kecamatan Dringu. Ribuan rumah di 4 desa di Kecamatan Dringu, yakni Tegalrejo, Kalirejo, Kedungdalem, dan Dringu telah menjadi korban banjir.

Banjir itu lebih pasnya disebut kiriman. Sebab, dari penelusuran dan keterangan   petugas BPBD Kabupaten Probolinggo, disebutkan bahwa banjir Dringu merupakan kiriman dari daerah hulu sungai yang berada di kecamatan Sumber, Kuripan, dan Bantaran.  Jika terjadi hujan deras di ketiga kawasan tersebut dan durasinya hingga lebih dari 2 jam, maka dipastikan Sungai Kedunggaleng akan meluap.

Hal ini diperparah dengan kondisi hutan yang ada di kawasan lereng gunung Bromo yang kini sudah beralih fungsi. Alih fungsi itu membuat air hujan yang turun tidak langsung terserap ke tanah, melainkan langsung mengalir ke anak Sungai Kedunggaleng yang kemudian menyatu dengan aliran utama Sungai Kedunggaleng.

Kalau sudah demikian sedimen berupa lumpur pun langsung terbawa derasnya arus yang lebih menyerupai banjir lahar dingin. Sebab, air membawa material dari kikisan tanah permukaan hutan. Lumpur itu sama sekali tidak bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan bersifat merusak terhadap tanaman pertanian.

Alhasil, kondisi tersebut membuat terjadinya pendangkalan dasar sungai yang sangat ekstrim. Dalam kondisi normal, sungai Kedunggaleng yang seharusnya memiliki kedalaman 7 meter diukur dari tepian sungai, kini hanya berkisar 4 meter. Sisanya yang tiga meter sudah berupa sedimen lumpur dan tumpukan sampah yang terlihat di sepanjang sungai tersebut.

Hal itu sangat terlihat dari pantauan Koran Pantura pada saat melihat kondisi sungai di sepanjang Sungai Kedunggaleng di Desa Kedungdalem dan Dringu. Sampah masih terlihat menumpuk dan tersangkut di tepian sungai. Hal itu diperparah dengan kondisi material plengsengan yang ambrol yang membuat dasar sungai makin dangkal saja. Sehingga wajar saja kalau warga setempat selalu was-was mendapatkan teror dari informasi banjir deras di kawasan hulu. Sebab, sudah pasti potensi banjirnya meningkat.

Meskipun demikian, yang menyedihkan yakni masih terbiasanya warga di sepanjang daerah aliran sungai Kedunggaleng membuang sampah langsung ke sungai. Bahkan hal itu didapati langsung oleh Koran Pantura pada Senin (13/9) sore. Seorang warga tampak seenaknya membuang bungkusan sampah ke aliran sungai.

Perempuan tua itu dengan santainya membuang sampah dari atas jembatan Kedungdalem. Tak tampak sama sekali adanya rasa penyesalan, karena sebelumnya lingkungan rumah di sekitar jembatan itu terendam banjir sekitar 1 meter.

Saat ditegur, dengan entengnya ia mengatakan bahwa kebiasaan membuang sampahnya itu sudah dilakukan sejak lama dan tak ada urusannya dengan banjir. Tak lama, ibu tua itu pun pun berlalu, pulang ke rumahnya yang berada tak jauh dari jembatan itu.

Darmi (49), salah seorang warga Desa Kedungdalem yang tinggal di tepi sungai mengatakan bahwa kebiasaan membuang sampah ke sungai sudah menjadi kebiasaan warga setempat. Sebab menurutnya,  tidak ada sarana tempat sampah yang mumpuni. Pada akhirnya sungai lah yang jadi alternatif tempat pembuangan sampah. “Tapi kalau bisa jangan diterjang banjir lagi. Banyak ruginya,” katanya.

Ia berharap, semua bisa saling introspeksi diri. Termasuk dirinya yang kini langsung membakar setiap sampah yang menumpuk di lingkungan rumahnya. “Masalahnya itu membuang sampah ke sungai sudah seperti jadi budaya disini. Bukan hanya disini, bahkan mungkin dari manusia di sepanjang daerah sungai ini mulai atas sampai bawah sini,” tegasnya.

Dia menyakini bahwa permasalahan banjir akan terus ada hingga beberapa tahun mendatang, meskipun pada akhirnya nanti akan diadakan rehabilitasi dan pengerukan sungai. Dia menyebutnya akan sia-sia saja, karena memang kondisi hutan diatas sudah gundul dan sampah terus dibuang ke sungai. “Hanya masalah waktu saja, banjir akan kembali datang kesini,” katanya.  (tm/iwy)


Bagikan Artikel