Sosbudpar

Pesawat Mini dari Styrofoam, Rasakan Sensasi Jadi Pilot


PROBOLINGGO – Styrofoam biasa dimanfaatkan untuk membuat aneka dekorasi. Tetapi selain itu, styrofoam juga  bisa menjadi bahan untuk pesawat mini. Nah, bermain pesawat mini dengan tambahan dinamo dan baling-baling drone, ternyata sudah bisa merasakan sensasi jadi pilot.

Lapangan Desa Purut, Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo, Minggu (22/8) itu  mendadak ramai. Sejumlah orang berdatangan membawa pesawat mini. Uniknya, pesawat yang dibawa itu terbuat dari styrofoam. Mereka ternyata komunitas aeromodeling Probolinggo.

Ada puluhan orang anggota komunitas tersebut yang berkumpul di lapangan itu. Mereka berkumpul untuk sama-sama mencoba pesawat mininya. Modelnya pun bermacam macam. Ada yang khusus terbang santai, ada juga yang memang untuk race.

Meski bahannya dari styrofoam, namun pesawat mini tersebut sudah bisa bergerak hampir serupa pesawat. Hanya, yang membedakan selain ukurannya mini, cara menerbangnya  pun juga tidak sama. Sebab, pesawat ini cukup diterbangkan langsung menggunakan tangan. Rasa ini sama dengan pesawat kertas.

“Memang begitu. Kalau pun landing juga nggak harus ada landasan, jadi langsung saja ditangkap,” ungkap Abbas yang menjadi ketua Aeromodeling Proboliggo yang berada di Purut, kemarin.

Abbas mengatakan, aeromodeling Probolinggo sendiri sudah lama terbentuk. Komunitas ini merupakan gabungan dari pecinta aeromodeling di seluruh pelosok Probolinggo. “Kalau merakit sendiri, tak kurang dari Rp 3 juta sudah sama remote control,” katanya.

Dari koleksi setiap anggotanya, aeromodeling yang ada ternyata juga beragam. Mulai dari pesawat santai dengan kapasitas yang tidak terlalu tinggi, hingga pesawat yang khusus untuk race atau balapan.

“Ya, kalau modelnya ada dua itu. Kalau ditanya rasanya, ya bisa dikatakan seperti mengendalikan pesawat. Cuma nggak serumit pesawat beneran, karena remote control yang ada hanya sifatnya mirip dengan drone,” jelas Abbas.

Dari segi spesifikasi atau spek, yang ada bisa dibedakan antara pesawat biasa dengan pesawat khusus balapan. Salah satunya bisa dilihat dari baling-balingnya. Yang khusus untuk race, baling-balingnya ada di bagian belakang. “Sementara untuk yang biasa, balingnya ada di depan,” terangnya.

Meski begitu, ada juga anggota yang mempunya pesawat spek tinggi. Salah satunya karena sudah dilengkapi dengan GPS dan kamera untuk ambil video. “Harganya Rp 10 juta lebih. Tetapi pesawatnya bisa terbang sesuai dengan sistem GPS yang sebelumnya ditentukan, terbang dan bisa turun sendiri,” ujarnya.

Dari komunitas ini anggotanya tidak hanya bisa merasakan sensasi menerbangkan  pesawat mini, tetapi ada kebanggaan sendiri ketika membentuk formasi layaknya pesawat tempur. “Apalagi dengan bunyinya yang mirip. Justru itu nikmatnya,” tutur Abbas. 

Terkait perawatan, Abbas mengaku tidak sulit. Hanya perlu sering mengecek kelistrikan sebelum terbang. “Dilihat kemampuan baterai, kemudian sistem penggerak di sayap. Kalau sudah ready, bisa langsug terbang,” jelasnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel