Sosbudpar

DMI: Salat Jumat Bergelombang Tidak Cocok


KRAKSAAN – Wacana pembagian salat Jumat bergelombang untuk memutus penularan Covid-19 di tanah air mendapat tanggapan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Probolinggo. Aturan salat Jumat ganjil-genap untuk menghindari munculnya klaster masjid itu dinilai tak cocok bila diterapkan di daerah setempat.

“Sebenarnya kami belum menerima surat edaran itu dari pusat. Tetapi apabila memang itu benar akan diterapkan, rasanya tidak akan cocok jika diterapkan di Kabupaten Probolinggo,” ungkap Ketua DMI Kabupaten Probolinggo KH Wasik, kemarin (15/8).

Diketahui, ada rencana mengatur pelaksanaan salat Jumat bergelombang. Tujuannya untuk mencegah penularan Covid-19. Konsepnya menggunakan pembagian nomor.

Menurut KH Wasik, wacana itu mungkin cocok jika diterapkan di kota besar yang tempat untuk melaksanakan ibadah hanya di masjid besar. Sedangkan di Kabupaten Probolinggo yang wilayahnya pedesaan, banyak musala-musala di berbagai tempat.

Bila salah satu masjid tidak muat untuk menampung jamaah salat Jumat dengan protokol kesehatan, maka bisa dilakukan di musala terdekat. Di daerah setempat, dalam satu desa terdiri dari banyak musala dan masjid. Tentu, tempat ibadah yang sederhana itu dapat digunakan untuk melaksanakan ibadah salat Jumat tanpa harus mengikuti gelombang.

Secara pribadi, kata KH Wasik, dirinya kurang sepakat akan adanya wacana salat Jumat bergelombang tersebut. Sebab, menurut dia, masih banyak jalan untuk menyiasati jumlah jamaah salat tersebut.

Bahkan, dalam madzhab berbeda, jumlah jamaah salat Jumat yang tak sampai 40 orang itu masih bisa dilakukan. “Kan masih bisa pakai pendapat ulama lainnya, seperti di madzhab Hanafi itu, salat Jumat hanya 4 orang itu sah,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk surat edaran tersebut hingga kini masih belum diterimanya. Jika wacana tersebut sudah tersebar pada telinga masyarakat, pihaknya belum bisa memastikan akan ikut menerapkan atau tidak sama sekali.

“Hingga kini surat edaran untuk Kabupaten Probolinggo terkait kebijakan penerapan salat Jumat jamaah bergelombang itu belum diterima dari DMI pusat. Kalau secara pribadi, saya belum sreg dengan adanya peraturan seperti itu, karena masih banyak cara lain untuk menyiasati,” tegasnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel